Unggahan Zaman


“Kamu nggak ikut berduyun-duyun menonton police line di desa sebelah, Din?” Seru Rasipin yang setengah berlari mendatangi Rasidin.

“Apanya yang ditonton kok sampai berduyun-duyun? Lagipula, jangankan nonton police line, nonton police tanpa line saja aku malas,” jawab Rasidin.

“Lho, ini bukan police line biasa, bukan police line rumah atau tanah sengketa, bukan pula police line rumah atau tanah disita. Police line yang ini mengelilingi sebuah tempat di mana di situ ditemukan seonggok mayat seorang remaja perempuan yang berdasarkan perkiraan mati dibunuh tiga hari yang lalu. Baunya sudah busuk, jasad sudah tak berbentuk. Sementara pakaiannya, hanya tersisa pakaian dalam. Maksudku, pakaian dalam yang bagian atas. Selebihnya, semua orang, termasuk police tanpa line, diam.”

“Kamu ikut berduyun-duyun tadi? Kamu lihat sendiri apa-apa yang baru saja kau ceritakan?” Selidik Rasidin.

“Tentu saja. Bukankah kamu tahu, berduyun-duyun adalah kegemaranku. Begitu pula dengan melihat mayat, sebab dengan sering-sering melihat mayat, aku akan selalu ingat wujud sejatiku,” jawab Rasipin mencoba meyakinkan Rasidin yang memang sejak lama mengidap penyakit “validitas”.

“Dan masya Allah, Din,” sambung Rasipin, “Begitu melihat salah satu bagian tubuhnya, yaitu bagian tubuh yang konon begitu digemari kaum lelaki, aku terperanjat. Sesuatu yang karena saking menggodanya sehingga tampak begitu menggiurkan ketika masih hidup itu menjadi begitu buruk dan menjijikkan. Oleh itu, tiba-tiba aku teringat Fatonah, penyakit jiwa macam apa yang menghinggapinya sehingga tega merampok bangsanya yang berarti sekaligus merampok dirinya sendiri, hanya demi sesuatu yang buruk dan menjijikkan itu?”

“Buruk dan menjijikkan kan kalau sudah mati, sudah membusuk. Yang diburu Fatonah kan yang masih hidup,” sangkal Rasidin.

“Memang iya, tapi Fatonah masak nggak tahu kalau yang hidup pasti mati, kalau yang menggoda pasti berekor bencana, kalau yang menggiurkan pasti berbungkus kepalsuan?”

“Itu kan pernyataan dari mulut orang asongan macam kita. Kita kan belum merasakan bagaimana rasanya bergelimang uang macam Paman Gober, eh, maksudku seperti Pakde Fatober. Perlu kau catat, jiwa yang hidup tak mungkin menghasilkan gerak Fatonah.”

“Daripada membahas Fatonah,” sambung Rasidin, “mungkin lebih baik kita membahas mayat yang baru kau lihat tadi. Maksudku, apa yang engkau ketahui tentang remaja perempuan itu semasa hidupnya?”

“Anak orang kaya, baru saja lulus SMA, pukul lima sore pamit keluar untuk membayar pulsa kepada teman sekolahnya, sedangkan jalan dari rumahnya menuju rumah temannya adalah mbulak alias kanan-kiri hutan tanpa lampu jalan, pukul sebelas malam belum juga pulang ke rumah, ketika orang tuanya menelpon temannya, katanya pukul sembilan sudah pamit pulang. Temannya menambahkan, si remaja perempuan biasanya “dolan” bersama teman lelakiya ke hotel “Anu”.”

“Bocah lulusan SMA? Malam hari dolan ke hotel bersama teman lelakinya?” Suara Rasidin meninggi, seolah kata “SMA”, “Malam”, “Hotel” dan “Teman Lelaki” itu hantu yang membuatnya ketakutan. Padahal jangankan dengan hantu, dengan Tuhan saja Rasidin berani “bercanda”.

“Ya, itu informasi yang aku dapatkan. Valid-tidak validnya, bukan tanggung jawabku,” jawab Rasipin seakan ketakutan oleh si “validitas” peliharaan Rasidin.

Tidak seperti biasanya, Rasidin memilih diam daripada menjawab tanda tanya-tanda tanyanya sendiri. Setelah agak lama, rasidin justru meminta kesimpulan kepada Rasipin, “Dari segelintir informasi itu, atau setidaknya, dari empat kata yang bagai hantu itu, kesimpulan apa yang kau dapatkan?”

“Remaja perempuan itu mungkin men-download atau mengunduh hasil upload-an atau unggahannya sendiri,” simpul Rasipin.

“Juga hasil unggahan orang tuanya, lingkungannya, dan zamannya,” imbuh Rasidin pada kesimpulan Rasipin.

BP kkb Sambong, 3 Juli 2013 – 12.09

0 comments:

MTA, MTB, MTC, MTD, MTE, dan Seterusnya


“NU tidak salah, Muhammadiyah tidak salah, MTA tidak salah, Syiah tidak salah. Orang bebas mau memilih NU atau NO, memilih Muhammadiyah atau Muhammad Berhadiah, memilih Syiah atau Syial. Bahkan jangankan sekadar memilih MTA, milih  MTB, MTC, sampai MTZ pun tak ada salahnya. Kesalahan baru ada ketika NU, Muhammadiyah, MTA, Syiah, juga yang lain-lain, dianggap sebagai satu-satunya Yang Benar, sehingga karena merasa sebagai satu-satunya, wajib merasa resah ketika muncul sesuatu yang lain. Keresahan kemudian bergeser menjadi kedengkian begitu yang baru muncul itu tiba-tiba berkembang pesat. Dan istilah Moco Terjemah Alquran yang baru saja kau lontarkan itu adalah salah satu bentuk kedengkian yang diam-diam ditanam orang lain di dalam pikiranmu.”

Nafas Rasidin naik-turun. Kalau tidak ingat dengan larangan mengutuk, ia pasti mengutuki dirinya sendiri yang dari dulu hingga sekarang, di sana maupun di sini, selalu berurusan dengan ketidakdilan pikiran. Andai hadits “73 golongan” itu berbentuk HP, sudah ia banting hadist “rasis nan narsis” itu sejak tadi. Tetapi untung cinta Rasidin kepada teman-temannya melebihi cinta Rasidin kepada rokoknya. Sehingga Rasidin hanya perlu memaksakan diri berbicara panjang lebar, dengan shoot on goal sebagai ending-nya.

“Engkau menuduh orang yang tidak berdiri ketika pembacaan puisi barzanji sebagai orang yang tidak menghormati orang lain, sementara engkau sendiri tidak terima ketika kutuduh sebagai orang yang tidak menghormati orang yang tidak berdiri. Ketidakadilan pikiran merk apakah yang sedang kau tawarkan kepadaku ini?”

“Engkau resah dengan siaran radio, dan karena engkau tak bisa bikin siaran radio, siaran radio kau fitnah habis-habisan.”

“Engkau resah melihat ada salah satu tetanggamu yang tidak hadir kenduri, sementara engkau tidak berpikir bahwa tetanggamu juga resah tentang eksistensi kelanjutan hubungan sosialnya di lingkunganmu. Orang yang tidak hadir kenduri kau kucilkan, sementara orang yang berzina kau hormati. Ah, bagaimana kau ini.”

“Engkau merasa beruntung sebagai orang yang membaca kalamullah seusai shalat, dan karena merasa beruntung, engkau merasa berhak menuduh orang yang tidak membaca kalamullah sesuai shalat sebagai orang yang merugi. Tahi sapi yang kau impor dari negara manakah teori untung-rugi semacam ini?”

“Binasanya lagi, setelah segala omonganku tadi, engkau menuduhku sebagai orang yang Moco Terjemah Alquran. Ya, binasa. Karena pikiran yang mati tak bisa dihidupkan lagi. Kecuali Isa putra Maryam, atas izin Tuhan, berkenan melintas di sela-sela kemacetan jalan pikiranmu.”

Cepu, 27 Juni 2013 – 15.39

0 comments:

Mbak Bidan dan Keturunan Sunan Surban


Oleh satu keperluan, Rasidin berangkat menuju Puskesmas terdekat. Tentu saja bukan untuk berobat, karena Rasidin sedang dalam keadaan sehat. Jika pun sakit, daripada meracun tubuhnya sendiri dengan obat, Rasidin memilih untuk mengajak pikirannya bersepakat bahwa sakit adalah salah satu bentuk nikmat. Namanya saja nikmat, ya harus dinikmati.

Untung saja penyakit-penyakit kelas berat enggan bersahabat dengan Rasidin. Atau mungkin penyakit-penyakit kelas berat itu tahu bahwa Rasidin tidak punya banyak uang untuk meladeni “mereka”. Sudah tak punya banyak uang, tidak mau “bikin” ASKES, demikian kira-kira gerutuan “mereka”.

Untungnya lagi, Rasidin termasuk jenis manusia yang siap “diedit”. Sehingga, Rasidin akan tidak merasa sungkan untuk merevisi pilihan sikapnya terhadap obat andai yang datang adalah penyakit kelas berat. Tapi ya itu, para editor manusia Rasidin juga harus siap untuk terlibat dalam debat ketat berbasis akal sehat.

Delapan belas lembar surat tugas dan delapan belas lembar kuitansi menyertai keberangkatan Rasidin ke Puskesmas. Semestinya Rasidin hanya tinggal mengambil berkas-berkas itu dari Puskesmas. Tapi begitulah Rasidin, seakan digariskan untuk selalu mengalah. Mengalah adalah meng-Allah, demikian jawab Rasidin jika ada beberapa temannya yang tidak rela melihat Rasidin dikalahkan. Lagipula, sambung Rasidin kepada temannya, aku sudah pernah merasakan kekalahan yang jauh lebih besar daripada sekadar membuat surat tugas dan kuitansi yang cuma beberapa lembar. Dan aku tetap meng-Allah.

Urusan surat tugas dan kuitansi sudah selesai. Rasidin pamit pergi. Beberapa langkah menuju sepeda motornya, seorang bidan yang belum dikenal Rasidin menahan langkahnya, “Din, kalau mengambil “barang” mbok ya sedikit dilebihkan, nanti kelebihannya saya tampung, sehingga kita bisa saling mendapat untung.”

Saling mendapat untung? Rasidin bergumam. Rasidin seperti mendadak terserang demam.

“Maaf, Mbak. Mbak-nya bidan desa mana? Tanya Rasidin di sela-sela perjuangannya melawan “demam internalnya”.

“Saya bidan Jawa Timur, tapi kan bukan masalah, tho, wong yang lain-lain juga begitu,” jawab Mbak Bidan.

Ini Jawa Tengah, Bung, eh, Mbak. Bukan Jawa Timur. Bentak Rasidin dalam hati. Jangankan kepada yang Jawa Timur, kepada yang Jawa Tengah saja Rasidin ogah berbagi bencana yang oleh si Mbak Bidan tadi disebut sebagai keuntungan.

“Bukannya saya tidak bisa melebih-lebihkan, Mbak. Saya hanya tidak mau. Tidak enak sama Tuhan. Apa kata Tuhan nanti kepada saya. Masak sudah dikasih jadi PNS gratisan masih minta tambahan dari “barang-barang” yang sebenarnya gratisan itu.”

Paragraf di atas paragraf ini adalah jawaban Rasidin yang telah dimodiifikasi. Adapun jawaban Rasidin yang asli sengaja tidak dicantumkan di sini karena Rasidin tidak berkenan jawabannya yang asli disebarluaskan. Kuatir orang-orang nanti mengira Rasidin keturunan Sunan Kalijaga. Maka terpaksa yang disebarluaskan lewat tulisan ini jawaban bergaya Sunan Giri. Tentu saja agar orang-orang mengira Rasidin keturunan Sunan Giri dan bukannya keturunan Sunan Kalijaga. Padahal jelas Rasidin itu bukan keturunan kedua manusia unggul tersebut, melainkan keturunan Sunan Surban.

Sunan itu bentuk jamak dari sunnah. Surban itu kependekan dari kasur dan bantal. Jadi, Rasidin adalah keturunan hasil dari dua orang yang mengerjakan ibadah sunnah berjamaah yang masjidnya kasur dan sajadahnya bantal.

Sedangkan si Mbak Bidan, mungkin sama-sama keturunan Sunan Surban, hanya saja warna surbannya berbeda.

BP kkb Sambong, 26 Juni 2013 – 12.16

0 comments:

Komedi Informasi dari Desa Gagakan


Kata seseorang, informasi adalah cahaya. Buktinya, kata orang itu, bukankah Alquran adalah sekumpulan informasi?

Sebagaimana setiap orang berkemungkinan benar dan berkemungkinan salah, juga berkemungkinan ada benarnya dan berkemungkinan ada salahnya, begitu pula dengan orang yang bilang bahwa informasi adalah cahaya: ia mungkin ada salahnya, atau bahkan mungkin benar-benar salah.

Pada suatu senja, salah satu stasiun televisi, lewat acara Orang Pinggiran, menginformasikan bahwa di desa Gagakan, yaitu satu dari sepuluh desa yang ada di wilayah Kecamatan Sambong Kabupaten Blora, ada sebuah keluarga yang menderita kemiskinan sedemikian parahnya. Saking parahnya kemiskinan itu, informasi tersebut sampai perlu disertai dengan gambar bergerak kehidupan sehari-hari keluarga tersebut. Tentu saja gambar bergerak itu berupa rupa-rupa output kemiskinan keluarga tersebut.

Pemirsa acara yang jauh dari desa Gagakan mungkin akan trenyuh atau jatuh kasihan melihat kemiskinan tingkat parah yang dipentaskan oleh keluarga tersebut. Bagaimanapun, kapanpun, dan di manapun, kecuali hati yang tak lagi bulat dan utuh, kemiskinan merupakan keadaan yang hati siapapun pasti tersentuh. Setidaknya pasti ada komentar, “Masak ya masih ada orang yang hidup sebegitu menderitanya pada zaman yang sebegini asyiknya.”

Itulah hebatnya televisi: kuasa memobilisasi, bahkan mempesawatterbangi. Keluarga yang baru saja membeli sebidang tanah cukup lapang dan memiliki dua buah sepeda motor, dalam waktu singkat bisa disulap menjadi keluarga prasejahtera alias keluarga sangat miskin sekali. Persis seperti pertunjukan komedi yang pemainnya bisa berganti peran menjadi apa saja, termasuk menjadi banci atau waria. Yang penting lucu. Tak soal apakah kelucuan itu bersifat menghibur atau justru berkarakter penghancur.

Kelucuan yang lain, komedi informasi tersebut, berdasarkan informasi dari Sekdes yang bersangkutan, tak lepas dari peran Bayan Desa yang, entah kebetulan entah tidak kebetulan, rumahnya berhadapan dengan rumah keluarga yang ditampilkan di acara Orang Pinggiran. Sehingga muncul dugaan kalau dalam hal itu, Bayan mempunyai kepentingan di sektor pembagian keuntungan.

Dugaan lain, kru Orang Pinggiran dikejar deadline jam tayang sehingga terpaksa mengambil jalan pintas nan tak pantas dengan cara memantas-mantaskan kemudian mementaskan orang tak miskin sebagai orang miskin di hadapan jutaan mata manusia. Dugaan ini sama kuatnya dengan dugaan terakhir: acara Orang Pinggiran adalah acara yang seluruhnya dagelan, mulai dari proses pemilihan tokohnya, proses pembuatan skenario dan naskahnya, hingga proses pementasannya. Komedi informasi mencapai peak perfomance-nya ketika “lagu kebangsaan” Orang Pinggiran diberi hiasan “Tuhan kan berikan jalan ...”

Kalau sudah seperti itu, cahayakah informasi yang "diwahyukan” oleh stasiun televisi lewat “malaikat” Orang Pinggiran itu?

Cepu, 12 Juni 2013 – 17.35

0 comments:

Kapak Memori


Dua tumpuk hujan
Dan tetes-tetes huruf koran
Serta senja yang sendirian

Tak ada secangkir kopi
Sebab tak ada sepercik api
Pada senja yang sepi

Hanya bunyi:
Humanity
Insanity

Sayap-sayap memori
Bagai kapak menyabet ke kanan dan kiri
Jiwa melayang ke sana kemari

Mata menatap benda
Ataukah benda menabrak mata
Oh: mata dan benda adalah buku yang sama tapi beda edisi

Kamar di dalam rumah
Ataukah kamar mewadahi rumah
Oh: langit dan bumi bersama-sama dipangku kursi

Jasad di dalam jiwa
Jiwa di dalam nyawa
Oh: sumber cahaya ternyata mata

Manusia di dalam mata
Mata di dalam jiwa
Jiwa memangku kursi

BP KKB Sambong, 10 Juni 2013 – 12.49

0 comments:

Untuk Orang Kaya, Dari Orang Miskin


Zar, Rumi benar ketika berkata, “Orang paling miskin di antara kalian adalah orang yang paling kaya.” Dua lembar seratus ribuan sengaja aku masukkan ke dalam sebuah amplop. Di hadapan seorang teman aku pamit pergi sembari berkata, “Aku pergi dulu untuk nyangoni orang kaya.”

Apalagi sebutan yang lain untuk menyebut orang yang sudah punya pangkat, mobil, dan rumah lumayan megah selain orang kaya? Bandingkan dengan aku yang berkememungkinan besar tidak naik pangkat hingga lima tahun ke depan, yang belum punya rumah, dan lebih parah lagi: sejak bayi hingga kini belum punya sepeda motor sendiri.

Toh kenyataan itu sama sekali tak menghadang keadaan di mana yang miskin mesti ngopeni yang kaya. Memang uang itu bukan uangku sendiri, tetapi bukankah uang, daripada dimubadzirkan di vila si kaya, lebih baik dimanfaatkan setotal-totalnya di gubuk si miskin?

Sekali-kali jangan sebut aku miskin, Zar. Aku  boleh tidak punya persyaratan untuk disebut orang kaya, tapi itu tak berarti aku tak mampu menjadi kaya. Kaya-miskin, bagiku, hanyalah pilihan. Aku boleh datang untuk mencooblos atau mencontreng salah satu dari dua pilihan itu, tapi seperti terhadap pilkades, pilbup, pilgub, pilpres, aku tak pernah datang. Aku memilih tak datang, sebab aku tak pernah mengenal kaya dan miskin. Atau, bagiku, “letak” kaya-miskin tidak berada pada sesuatu yang kusebutkan di muka.

Kaya-miskin ada di akal, kemudian hati, kemudian jiwa. Di luar tiga hal ini: debu.

Kembali kepada amplop tadi, prosesi serah terima amlop tersebut kurasakan seperti prosesi penyerahan upeti. Heran aku, Zar: berada pada zaman kerajaan atau zaman republikkah aku sekarang ini? Lebih mengherankan lagi, orang kaya yang kusodori amplop tersebut dengan nada akrab bertanya, “Ini untuk kami atau untuk aku saja?”

Aku sendiri yang keliru, Zar. Harusnya amplop tersebut kububuhi tulisan: Untuk Orang Kaya, Oleh Orang Miskin.

Pojokwatu, 29 Mei 2013 – 16.21

0 comments:

Pembongkar


Zar, selalu ada hari di mana matahari tak bersinar sama sekali. Tapi tak bersinar tak similar dengan sirna. Matahari, yaitu makhluk yang menakjubkan itu, hanya kalah bersaing dengan tumpukan gumpalan-gumpalan awan. Alhasil, pukul dua belas siang, yaitu waktu di mana puncak pencerahan tercapai, suasana tetap saja subuh. Atau senja.

Hari yang seperti itu baru saja terjadi kemarin. Kemarin bukan hanya hari yang tak cerah, lebih dari itu: basah. Perjalananku menuju kantor induk yang berjarak sekitar tiga puluh kilometer dari kantor cabang tak terhindar dari basah itu, oleh tetes-tetes gerimis, tetesan-tetesan yang selalu mengingatkanku pada ruang kosong di antara butiran-butiran lembut itu.

Perjalananku dari kantor induk ke warung untuk berbagi rasa dengan seorang teman sambil menunggu datangnya bendahara kantor, perjalananku dari warung ke kantor induk untuk mengambil hak bernama Tunjangan Perbaikan Penghasilan, perjalananku dari kantor induk ke sebuah masjid untuk menunaikan shalat Dhuhur, perjalananku dari masjid ke rumah seorang teman untuk meng-copy-paste file-file yang berkaitan dengan angka kredit dan kenaikan pangkat, serta perjalananku dari rumah teman kembali ke rumah kontrakanku, seluruhnya berbalut gerimis. Tubuhku, sebagaimana telah sejak lama kau tahu kebiasaanku, selalu enggan untuk dilapisi jas hujan.

Seluruh perjalanan itu, Zar, sungguh tidak nyaman. Ketidakcerahan sungguh-sungguh berbanding lurus dengan ketidaknyamanan. Sehingga aku sungguh-sungguh heran dengan orang-orang yang bisa hidup sangat nyaman di tengah kepungan ketidakcerahan: ketidakcerahan perbuatan, ketidakcerahan ucapan, ketidakcerahan pikiran—pikiran dari luar maupun pikiran dari dalam diri sendiri.

Omong-omong tentang ketidakcerahan, aku jadi teringat dengan film Sang Pencerah, yaitu film yang tak pernah kutonton secara sungguh-sungguh, juga sebuah film yang sebentar lagi akan disaingi oleh sebuah film yang lain, Sang Kyai, yaitu sebuah film yang tak akan pernah kutonton meskipun yang mengajakku nonton adalah Izrail. Aku tak punya cukup stok kesungguhan untuk dihabiskan di hadapan sesuatu yang monoton. Dan aku tak punya cukup persediaan kesediaan untuk dimubadzirkan di hadapan sesuatu yang riuhnya melebihi gemlodag-nya truk tronton.

Aku tidak sedang apatis, Zar, aku hanya sedang kurang sabar. Jika engkau punya sisa waktu, cermatilah kata-kataku: Sang Pencerah adalah sebuah judul yang terlalu megah, sedangkan Kanjeng Nabi Muhammad tak pernah bermegah-megahan, tak pernah berlebih-lebihan. Dalam segala hal. Adapun Sang Kyai, tidakkah telingamu tergelitik: alangkah absurdnya judul itu.

Kau tahu absurd, kan? Absurd itu kurang lebih sama dengan emboh. Dalam percakapan Jawa, “emboh” biasanya bersambung dengan “gak weruh”. Jadi emboh tidak sama dengan gak weruh. Kalau dikembalikan dalam kerangka cerah-gelap, gak weruh sama dengan keadaan gelap, sedangkan emboh sama dengan keadaan sebelum gelap malam; suasana senja; suasana tak cerah. Suram.

Akan tidak sedikit jumlah orang tersinggung oleh kesimpulanku yang terlalu dini ini. Di antara yang tersinggung itu, pasti ada yang meninju mukaku. Ah, tidak. Bukan pasti ada, melainkan sudah pernah ada. Sebagaimana yang engkau tahu, ibumu lah yang menjemputku di “ring tinju” itu. Ring tinju tempat seorang diri Oscar de la Hoya di-hook, jab, straight, dan uppercut oleh Evander Holyfield, George Foreman, Michael Spink, dan Mike Tyson secara bersamaan.

Matikah aku oleh itu? Tidak, Zar. Bahkan kematian si “Goerge Foreman” yang brangasan dan kampungan itu tak membuatku tertarik untuk ikut-ikutan mati. Karena perjuanganku tidak seremeh misalnya untuk membalas dendam kepada “Goerge Foreman”. Atau kepada siapa pun. Perjuanganku adalah perjuangan seorang anak yang mendapat warisan gudang penuh buku sekaligus warisan satu pertanyaan yang mana pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan tepat setelah si anak membongkar gudang tersebut untuk mengeluarkan isi dari satu persatu buku-buku itu.

Di samping “membongkar”, analogi lain tentang  perjuanganku adalah perjuangan untuk “terus berjalan tanpa jas hujan” di bawah ketidakcerahan yang “basah”, “licin”, “berlubang”, dan “jauh”.

Perjuangan? Hahaha ... lucunya aku, Zar. Sok gagah dengan membawa-bawa kata “berjuang”. Engkau pasti lebih terbahak ketimbang aku, kemudian dengan nada rendah khasmu itu engkau pasti akan berseloroh, “Bahkan Darto Perang jagoan Surabaya ‘45 yang ditinggal oleh buku sejarah itu tak pernah menyebut-nyebut kata “berjuang”.”

Zar, Engkau bebas berseloroh apa saja. Aku pun bebas sok gagah segagah-gagahnya. Orang baik pasti setuju kalau berseloroh selalu lebih baik daripada bersekongkol. Dan sok gagah selalu lebih gagah daripada nggagahi siapapun yang mutlak tak berhak dan mutlak tak berkewajiban digagahi.

Pojokwatu, 28 Mei 2013 – 22.01

0 comments:

Bangsa Tak Kapok-kapok


Inilah bangsa tak kenal kapok
Katanya bersatu nyatanya berkelompok-kelompok
Katanya Atlantis nyatanya pencopet dan perampok
Sementara yang pengecut: menjilat dan menyogok

Inilah bangsa tak pernah kapok
Yang lurus beramai-ramai disebut bengkok
Yang bengkok-bengkok jadi pedoman pokok
Ketika kecewa: menyalahkan rokok

Inilah bangsa tak kunjung kapok
Ibu pertiwi rontok
Dikeroyok pelacur-pelacur montok
Dibantu lelaki-lelaki katrok

Inilah bangsa tak kapok-kapok
Inilah telinga penuh kopok
Inilah mata benar-benar bosok
Inilah mulut yang musti disumpal sekepal lombok

Pojokwatu, 23 Mei 2013 – 16.54

0 comments:

Jiwa yang Lain


Ia terlihat berada di antara mereka. Tetapi sesungguhnya ia tidak berada di antara mereka. Ia terlihat ikut tertawa ketika mereka tertawa mendengar cerita konyol pengalaman njajan-nya seorang kepala Desa yang masih saja njajan meski mataharinya sudah berada di senja. Sesungguhnya ia tidak tertawa, seratus delapan puluh derajat dari itu, sebenarnya ia menangis.

Ia terlihat berbicara menanggapi obrolan mereka. Tetapi sesungguhnya ia diam: sibuk dengan bait-bait puisi yang mengalir di jalan fikir. Kalau ia terlihat berbicara, itu hanya hasil gerak reflek bibirnya serta sedikit keterlatihan telinganya dalam memahami sebuah pembicaraan hanya berdasarkan tiga kata terakhir yang keluar dari bibir kawan bicaranya.

Ia sendiri kadang tersadar: kelainan jiwa macam apa yang sedang diidapnya? Tetapi bukankah Muhammad adalah orang berkelainan jiwa menurut hampir seluruh masyarakatnya?

Muhammad sungguh-sungguh tidak berkelainan jiwa. Kalau jiwanya lain dari yang lain-lain, itu pasti iya. Ketika jiwa yang lain menuntut tidur di atas kasur empuk dan lembut sehingga dari jiwa itu kelembutan tercabut, jiwa Muhammad memilih tikar kasar. Kala jiwa seluruh pedagang curang dan mengurangi timbangan demi gunung keuntungan, jiwa Muhammad menyebutkan harga kulakan dan terserah pembelinya apakah akan membeli dengan harga yang sama dengan harga kulakan atau sedikit menambahnya.

Ketika kakek moyang Freemason, Abdullah bin Saba’, berkali-kali melakukan pembunuhan karakter jiwa Muhammad, Muhammad tidak lantas mencabut pedang dan melakukan pembunuhan yang sama. Padahal Muhhamad sedang berkuasa. Muhammad sangat mengerti bahwa apa yang menimpanya hanyalah bagian cerita, sedangkan cerita, tidak ada ceritanya tokoh cerita memberontak kepada pengarang cerita. Adapun jika Abdullah bin Saba’ pada akhirnya mati di tangan anaknya sendiri, yang hebat bukan Muhammad melainkan Pengarang Cerita.

Cerita hampir serupa bisa dijumpai pada diri Wahsyi pembunuh Hamzah yang kemudian menjadi pembunuh orang yang menyuruhnya membunuh Hamzah.  Atau pada diri Umar bin Abdul Aziz yang mengembalikan secara total nama baik Ali bin Abi Thalib setelah nama baik itu dicuri oleh kakeknya sendiri, Muawiyah. Juga pada diri Indonesia: rakyat dibunuh oleh wakil rakyat, kebijaksanaan di-uppercut oleh kebijakan, jalan raya dibikin supaya banyak orang celaka, gedung dibangun supaya penghuninya mati tertimbun reruntuhannya, kepemimpinan diraih tidak oleh kualitas jiwa kepemimpinan melainkan oleh uang, dan jika uang yang disetorkan dirasa kurang, bisa dilunasi dengan tubuh istri yang boleh dinikmati di dalam maupun di luar negeri. Yang lebih ngeri, solusi pelunasan kekurangan uang itu datang dari si istri sendiri.

Begitulah cerita yang baik. Semakin berliku dan semakin tidak mudah sebuah cerita ditebak, semakin bermutulah cerita itu. Sehingga untuk mengetahui bermutu atau tak bermutunya kehidupan seseorang, cukup dengan membaca jalan ceritanya. Dari jalan cerita itu bisa diketahui, diperankan sebagai tokoh utama atau tokoh figurankah seseorang itu oleh Pengarang Cerita. Bisa diketahui juga, diperankan sebagai protagonis atau antagoniskah seseorang itu.

Maka orang yang hidupnya “lurus-lurus saja”; orang yang hidupnya diselubungi kemudahan-kemudahan buatan; orang yang bagai sapi yang meminum susunya sendiri, perlu mengajukan pertanyaan ke dalam diri: bermutukah hidupku?

Ada tiga jenis tamu. Pertama, tamu yang mengganggu. Kepada tamu ini tuan rumah sering enggan untuk membukakan pintu, atau kadang cukup dengan memberinya sekeping lima ratusan. Kedua, tamu yang tidak disukai. Kepada tamu ini tuan rumah segera memenuhi seluruh kebutuhan tamunya dengan tujuan agar si tamu segera pergi. Ketiga, tamu yang dicintai. Kepada tamu ini dihidangkan secangkir kopi, sepiring tempe goreng, dan sebungkus rokok. Ketika secangkir kopi habis, istri tuan rumah segera menghidangkan secangkir kopi yang baru. Ketika sepiring tempe goreng habis, istri tuan rumah segera menghidangkan sepiring tempe goreng lagi. Begitu pula yang terjadi dengan sebungkus rokok. Demikian seterusnya. Peristiwa ini terjadi agar si tamu tidak segera pamit dan pergi.

"Jiwa yang Lain" tergambar pada tamu ketiga. Ia tak menuntut terpenuhinya segala kebutuhan. Ia hanya “meladeni” apa-apa yang dihidangkan oleh Tuan Rumah kepadanya. Persis seperti tokoh cerita yang tunduk kepada Pengarang Cerita.

Pojokwatu, 4 Mei 2013 – 17.10

0 comments:

Pertanyaan Paling Bodoh


Sebagai seorang pegawai, ia mestinya rajin mengerjakan SPJ. Kemudian menyetorkannya. Selanjutnya tinggal menunggu hari sampai kombinasi surat tugas/undangan-kuitansi-antologi tandatangan itu menjelma jadi lembaran-lembaran Rupiah.

Tapi benarkah ia seorang pegawai? Pertanyaan ini senantiasa berdenging di telinga batinnya. Kemudian disusul dengingan pertanyaan yang lain: Seorang pegawai yang benarkah ia?

Kata orang bijak, kehidupan adalah universitas terbaik kedua setelah kematian. Dan di universitas, satu pertanyaan pendek tidak pantas direspon dengan jawaban yang sama pendeknya. Seperti ketika ia masih kuliah dulu, satu pertanyaan dari Bapak Dosen mesti ia respon dengan jawaban sebanyak satu lembar kertas folio bolak-balik. Kenyataan ini berlaku baginya di semua mata kuliah, kecuali mata kuliah Aqidah. Masih segar di ingatan, lima pertanyaan dalam ujian mata kuliah Aqidah ia respon dengan menulis ulang lima pertanyaan itu sebagai jawaban.

Maka bingunglah ia. Dijawab dengan jawaban panjang-lebar ataukah menjadikan pertanyaan “benarkah ia seorang pegawai?” dan “seorang pegawai yang benarkah ia?” sebagai jawaban. Belum jelas benar baginya apakah persoalan SPJ itu termasuk materi mata kuliah Aqidah atau bukan. Jika termasuk materi Aqidah, mengapa di dalam SPJ sama sekali tak tercantum nama Tuhan, sedangkan dalam proses masuknya sesuap nasi ke mulut saja, jika tidak sedang lupa, nama Tuhan senantiasa dicantumkan? Jika tidak termasuk, mengapa setiap kali ia memulai mengerjakan SPJ sampai dengan menerima Rupiah hasil SPJ, selalu berdenging di telinganya pertanyaan yang lain: Kepada Tuhan yang sebelah manakah engkau menghadapkan wajah?

Pada suatu malam ia pernah menjawab, “Kalau yang Engkau kehendaki adalah menghadapnya wajahku ke wajah-Mu, mengapa aku Kau letakkan di sini sehingga harus berurusan dengan SPJ-SPJ sialan ini?”

Tapi jawaban itu segera ia putihkan. Melintasnya Musa dan Khidir di jalan fikir memberinya satu kesadaran: Jangan bertanya. Guru mana yang tak jengkel ketika sedang konsentrasi memberikan contoh tiba-tiba muridnya menyela dengan pertanyaan paling bodoh, “Guru, berapa lama lagi tiba saat istirahat?”

Pojokwatu, 2 Mei 2013 – 12.48

0 comments:

Underrated Player


Dari 11 pertemuan terakhirnya di semua kompetisi melawan MU, Arsenal hanya bisa menang satu kali. Demikian bunyi satu dari “butir-butir” statistik yang berceceran di halaman-halaman, koran maupun website. Jadi, berdasarkan kesepakatan “masyarakat gila detail” itu, butir statistik esok hari akan berbunyi “Dari 12 pertemuan terakhirnya di semua kompetisi melawan MU, Arsenal hanya bisa menang 1 kali”.

Pedulikah Ferguson maupun Wenger terhadap statistik itu? Ternyata tidak. Ferguson tahu, statistik hanyalah masa lalu. Sedangkan masa lalu tak akan pernah berlaku bagi orang yang selalu memandang ke depan sepertinya. Di sisi lain, alih-alih berbicara tentang pertandingan atau pun berbicara tentang mantan anak asuhnya (van Persie), Wenger justru berbicara tentang Michael Carrick, “Saya memilihnya (Michael Carrick) untuk memenangi PFA Player of the Year.”

Sekadar sebuah psywar atau justru sebuah isyarat bahwa pada pertandingan ke-12 nanti, bukan van Persie yang akan dibikin “mati” melainkan Michael Carrick? Atau jangan-jangan Wenger sedang “naksir” Michael Carrick dan berharap Ferguson mau melepaskannya mengingat usianya yang sudah 31?

Tuhan dan Wenger sendiri yang tahu secara pasti arti pernyataan itu. Tapi bagi orang-orang yang melihat sepakbola bukan sebagai sebuah kejuaraan melainkan sebagai sebuah kesenian juga sebagai sebuah kehidupan, pernyataan itu menunjukkan bahwa memang sudah sepantasnya Wenger dilengserkan dari singgasana kepelatihannya.

Hanya seorang seniman yang bisa melihat peran lebih besar seorang Michael Carrick dibanding pemain-pemain MU yang lain. Suatu “peran lebih besar” yang mirip dengan yang dilakoni Sergio Busquet di Barcelona.

Jadi harapan agar Wenger lengser bukan berdasar kebencian melainkan rasa kasihan kepada jutaan fans Arsenal: bagi seorang seniman, kalah atau menang, juara atau tidak juara, tak akan pernah menjadi masalah.

Fokus seorang seniman bukan kemenangan melainkan keindahan. Maka Arsenal butuh Mourinho.

Pojokwatu, 28 April 2013 – 17.03

0 comments:

Tak Datang Tak Pergi

di dalam dirimu
sendiri
tak ada yang datang juga yang pergi
tak ada yang lain selain yang sejati
temui yang sejati di dalam diri
tundukkan diri sepanjang hari

ke dalam dirimu
sendiri
ceburkan diri
ke api abadi

Pojokwatu, 27 April 2013
- 07.01

0 comments:

Katakan Tidak Padahal Korupsi


katakan tidak padahal korupsi
katakan jujur padahal ngapusi
katakan bekerja padahal menganggur
katakan perawan padahal pelacur

katakan apa saja bagaimana saja
sebab tak ada hukum dunia yang mengatur
berapa tahun penjara untuk siapa saja
yang berjalan sambil tidur

katakan tidak padahal korupsi
katakan kyai padahal sales mantra dan jampi
katakan amanat padahal khianat
katakan terhormat padahal terlaknat

katakan apa saja bagaimana saja
sebab tak ada hukum dunia yang mengikat
katakata katanya dengan nyatanyata nyatanya
: pasta gigi tak harus lekat dengan rambut sikat

katakan tidak padahal korupsi
katakan indah padahal njijiki
katakan berjasa padahal dasamuka
katakan surga padahal neraka

katakan apa saja bagaimana saja
sebab daripada lauhul mahfudz, lauhul mahwuw lebih mudah dibaca
sebab tempe goreng gosong aduhai gurihnya
sebab tak tampak di mata: Raqib-Atid bergelantungan di daun telinga

Pojokwatu, 24 April 2013 - 18.57

0 comments:

Ogah

Aku sering ogah
Pergi bekerja berlelah-lelah
Karena berapa buah rumah
Dan berapa meter persegi tanah
Juga berapa jumlah anak buah
Dijadikan ukuran tak boleh dibantah
Dalam menentukan siapa berdaya siapa lemah

Aku sering ogah
Pergi ke masjid beribadah
Karena sarung-kopyah
Dan sajadah
Juga kefasihan lidah
Dijadikan ukuran mentah
Dalam menentukan siapa salih siapa salah

Pojokwatu, 23 April 2013 – 05.03

0 comments:

Seperti Sebatang Emas yang Selalu Ingin Disepuh dengan Api


Seperti Adam-Mu, Tuhanku
Anugerahi pengembaraan panjang yang ketemu
Seperti Habil-Mu, Tuhanku
Anugerahi mengalah demi menyambut burung gagak-Mu
Seperti Idris-Mu, Tuhanku
Anugerahi kreativitas dan ilmu
Seperti Nuh-Mu, Tuhanku
Anugerahi perahu
Seperti Ibrahim-Mu, Tuhanku
Anugerahi menolak Jibril demi menyambut api sejuk-Mu
Seperti Ismail-Mu, Tuhanku
Anugerahi kambing pengganti leherku
Seperti Ya’qub-Mu, Tuhanku
Anugerahi pakaian penyembuh buta batinku
Seperti Yusuf-Mu, Tuhanku
Anugerahi sumur dan penjara
Sehingga mengelola negara tidak berdasar nafsu
Seperti Ayyub-Mu, Tuhanku
Anugerahi sakit seperti tak tersembuhkan dan pengkhianatan
Sehingga bisa bersabar dan memaafkan
Seperti Musa-Mu, Tuhanku
Anugerahi pingsan di hadapan-Mu
Seperti Harun-Mu, Tuhanku
Anugerahi kemerdekaan dalam kesetiaan
Seperti Daud-Mu, Tuhanku
Anugerahi seruling penjinak besiku
Seperti Sulaiman-Mu, Tuhanku
Anugerahi hud-hud-Mu
Seperti Yunus-Mu, Tuhanku
Anugerahi ikan penelan putus asaku
Seperti Yahya-Mu, Tuhanku
Anugerahi benteng pelindung dari godaan
Seperti Isa-Mu, Tuhanku
Anugerahi cinta kasih dan kebersahajaan
Seperti Muhammad-Mu, Tuhanku
Anugerahi jaga dalam tidurku
Seperti diriku, Tuhanku
Anugerahi bangunan kehendak-Mu
Di atas sepetak tanah yang tadi kusebut sebagai diriku

Pojokwatru,23 April 2013 – 05.36

0 comments:

Lubang-lubang Sepanjang Jalan


Sungguh tak akan berubah kerusakan suatu kaum
Sampai masing-masing anggota kaum itu
Bersungguh-sungguh mengubah kejiwaannya
(Alquran)

Perjalanan baru saja melewati batas. Lega. Tapi belum sepenuhnya lega. Di depan sana masih ada beberapa lubang yang wajib dihindari setelah baru saja selesai menghindari berpuluh-puluh lubang. Ironis yang kronis: di sini lubang di sana lubang. Selain di sepanjang jalan, di sisi sebelah kiri agak menjorok ke dalam, juga ada lubang. Di sini lubang di sana lubang, keduanya sama-sama mencelakakan.

Hanya pemimpin berjiwa celaka saja yang bisa membiarkan jalan separah ini, cetus sang kawan. Cetusan yang cukup beralasan: lubang-lubang sepanjang jalan ini sudah sedemikian mencelakakakn dan menelan banyak korban, mulai dari yang cedera ringan sampai dengan yang diiringkan menuju kuburan. Sedangkan Umar ibn Abd Aziz sampai menangis, padahal yang terpeleset hanya seekor kuda.

Tapi bukan hanya pemimpinnya saja yang berjiwa celaka. Yang dipimpin pun mayoritas berjiwa celaka. Sementara pihak yang dipercaya untuk mewakili yang dipimpin lebih celaka lagi: mencelakakan pemimpin sekaligus mencelakakan yang dipimpin.

Kok bisa yang dipimpin kausebut juga berjiwa celaka? Tanya sang kawan.

Kalau jiwa mereka bukan jiwa celaka, mereka tidak akan memilih orang berjiwa celaka untuk memimpin mereka lima tahun lamanya. Kalau jiwa mereka bukan jiwa celaka, mereka tidak akan memilih orang-orang celaka untuk mewakili mereka. Bagaimana tidak celaka, lha wong mereka begitu gampangnya dibuai dengan fatamorgana. Bukankah uang adalah salah satu anggota dari himpunan fatamorgana?

Ah, itu kan cari enakmu sendiri, mentang-mentang kamu tidak pernah satu kali pun masuk bilik suara, bantah sang kawan.

Ya,bolehlah kausebut dengan cari enakku sendiri. Tapi, bukankah pemimpin adalah cerminan masyarakat yang dipimpinnya? Kalau pemimpinnya seorang pencuri, kemungkinan terpasti adalah bahwa mayoritas masyarakat yang dipimpinnya adalah pencuri. Itulah sebabnya mengapa dulu Muhammad bilang “beruntunglah orang-orang yang asing”. Bahkan salah satu doa Muhammad berbunyi “masukkan aku ke dalam kelompok yang sedikit”.

Maka kalau sepanjang jalan ini, atau kalau jalan sepanjang ini, berlubang-lubang, berarti pemimpin beserta mayoritas masyarakatnya adalah pecinta lubang? Sergah sang kawan.

Itu istilahmu. Aku tak berhak mengiyakan atau pun mentidakkan. Terhadap fenomena lubang sepanjang jalan ini aku lebih condong untuk berasumsi bahwa pemimpin beserta mayoritas masyarakatnnya adalah penggemar permainan dakon. Jadi daripada ratusan guru terpaksa mengorbankan ribuan anak didiknya untuk mengikuti latihan senam demi memecahkan rekor MURI, lebih baik acara senam itu diganti dengan pertandingan dakon sepanjang jalan, sehingga para guru tidak perlu meninggalkan anak didiknya, sebab di depan sekolah mereka masing-masing tersedia cukup banyak stok lubang.

Pojokwatu,21 April 2013 – 01.17

0 comments:

Template by Clairvo Yance
Copyright © 2013 KapaBilitaS and Blogger Themes.