MTA, MTB, MTC, MTD, MTE, dan Seterusnya
“NU
tidak salah, Muhammadiyah tidak salah, MTA tidak salah, Syiah tidak salah.
Orang bebas mau memilih NU atau NO, memilih
Muhammadiyah atau Muhammad Berhadiah, memilih Syiah atau Syial. Bahkan
jangankan sekadar memilih MTA, milih MTB, MTC, sampai MTZ pun tak ada salahnya.
Kesalahan baru ada ketika NU, Muhammadiyah, MTA, Syiah, juga yang lain-lain,
dianggap sebagai satu-satunya Yang Benar, sehingga karena merasa sebagai
satu-satunya, wajib merasa resah ketika muncul sesuatu yang lain. Keresahan
kemudian bergeser menjadi kedengkian begitu yang baru muncul itu tiba-tiba
berkembang pesat. Dan istilah Moco Terjemah Alquran yang baru saja kau
lontarkan itu adalah salah satu bentuk kedengkian yang diam-diam ditanam orang lain di
dalam pikiranmu.”
Nafas
Rasidin naik-turun. Kalau tidak ingat dengan larangan mengutuk, ia pasti
mengutuki dirinya sendiri yang dari dulu hingga sekarang, di sana maupun di
sini, selalu berurusan dengan ketidakdilan pikiran. Andai hadits “73 golongan”
itu berbentuk HP, sudah ia banting hadist “rasis nan narsis” itu sejak tadi.
Tetapi untung cinta Rasidin kepada teman-temannya melebihi cinta Rasidin kepada
rokoknya. Sehingga Rasidin hanya perlu memaksakan diri berbicara panjang lebar,
dengan shoot on goal sebagai ending-nya.
“Engkau
menuduh orang yang tidak berdiri ketika pembacaan puisi barzanji sebagai
orang yang tidak menghormati orang lain, sementara engkau sendiri tidak terima
ketika kutuduh sebagai orang yang tidak menghormati orang yang tidak berdiri.
Ketidakadilan pikiran merk apakah yang sedang kau tawarkan kepadaku ini?”
“Engkau
resah dengan siaran radio, dan karena engkau tak bisa bikin siaran radio,
siaran radio kau fitnah habis-habisan.”
“Engkau
resah melihat ada salah satu tetanggamu yang tidak hadir kenduri, sementara
engkau tidak berpikir bahwa tetanggamu juga resah tentang eksistensi kelanjutan
hubungan sosialnya di lingkunganmu. Orang yang tidak hadir kenduri kau
kucilkan, sementara orang yang berzina kau hormati. Ah, bagaimana kau ini.”
“Engkau
merasa beruntung sebagai orang yang membaca kalamullah seusai shalat, dan
karena merasa beruntung, engkau merasa berhak menuduh orang yang tidak membaca
kalamullah sesuai shalat sebagai orang yang merugi. Tahi sapi yang kau impor
dari negara manakah teori untung-rugi semacam ini?”
“Binasanya
lagi, setelah segala omonganku tadi, engkau menuduhku sebagai orang yang Moco
Terjemah Alquran. Ya, binasa. Karena pikiran yang mati tak bisa dihidupkan
lagi. Kecuali Isa putra Maryam, atas izin Tuhan, berkenan melintas di sela-sela
kemacetan jalan pikiranmu.”
Cepu,
27 Juni 2013 – 15.39
0 comments: