Mbak Bidan dan Keturunan Sunan Surban


Oleh satu keperluan, Rasidin berangkat menuju Puskesmas terdekat. Tentu saja bukan untuk berobat, karena Rasidin sedang dalam keadaan sehat. Jika pun sakit, daripada meracun tubuhnya sendiri dengan obat, Rasidin memilih untuk mengajak pikirannya bersepakat bahwa sakit adalah salah satu bentuk nikmat. Namanya saja nikmat, ya harus dinikmati.

Untung saja penyakit-penyakit kelas berat enggan bersahabat dengan Rasidin. Atau mungkin penyakit-penyakit kelas berat itu tahu bahwa Rasidin tidak punya banyak uang untuk meladeni “mereka”. Sudah tak punya banyak uang, tidak mau “bikin” ASKES, demikian kira-kira gerutuan “mereka”.

Untungnya lagi, Rasidin termasuk jenis manusia yang siap “diedit”. Sehingga, Rasidin akan tidak merasa sungkan untuk merevisi pilihan sikapnya terhadap obat andai yang datang adalah penyakit kelas berat. Tapi ya itu, para editor manusia Rasidin juga harus siap untuk terlibat dalam debat ketat berbasis akal sehat.

Delapan belas lembar surat tugas dan delapan belas lembar kuitansi menyertai keberangkatan Rasidin ke Puskesmas. Semestinya Rasidin hanya tinggal mengambil berkas-berkas itu dari Puskesmas. Tapi begitulah Rasidin, seakan digariskan untuk selalu mengalah. Mengalah adalah meng-Allah, demikian jawab Rasidin jika ada beberapa temannya yang tidak rela melihat Rasidin dikalahkan. Lagipula, sambung Rasidin kepada temannya, aku sudah pernah merasakan kekalahan yang jauh lebih besar daripada sekadar membuat surat tugas dan kuitansi yang cuma beberapa lembar. Dan aku tetap meng-Allah.

Urusan surat tugas dan kuitansi sudah selesai. Rasidin pamit pergi. Beberapa langkah menuju sepeda motornya, seorang bidan yang belum dikenal Rasidin menahan langkahnya, “Din, kalau mengambil “barang” mbok ya sedikit dilebihkan, nanti kelebihannya saya tampung, sehingga kita bisa saling mendapat untung.”

Saling mendapat untung? Rasidin bergumam. Rasidin seperti mendadak terserang demam.

“Maaf, Mbak. Mbak-nya bidan desa mana? Tanya Rasidin di sela-sela perjuangannya melawan “demam internalnya”.

“Saya bidan Jawa Timur, tapi kan bukan masalah, tho, wong yang lain-lain juga begitu,” jawab Mbak Bidan.

Ini Jawa Tengah, Bung, eh, Mbak. Bukan Jawa Timur. Bentak Rasidin dalam hati. Jangankan kepada yang Jawa Timur, kepada yang Jawa Tengah saja Rasidin ogah berbagi bencana yang oleh si Mbak Bidan tadi disebut sebagai keuntungan.

“Bukannya saya tidak bisa melebih-lebihkan, Mbak. Saya hanya tidak mau. Tidak enak sama Tuhan. Apa kata Tuhan nanti kepada saya. Masak sudah dikasih jadi PNS gratisan masih minta tambahan dari “barang-barang” yang sebenarnya gratisan itu.”

Paragraf di atas paragraf ini adalah jawaban Rasidin yang telah dimodiifikasi. Adapun jawaban Rasidin yang asli sengaja tidak dicantumkan di sini karena Rasidin tidak berkenan jawabannya yang asli disebarluaskan. Kuatir orang-orang nanti mengira Rasidin keturunan Sunan Kalijaga. Maka terpaksa yang disebarluaskan lewat tulisan ini jawaban bergaya Sunan Giri. Tentu saja agar orang-orang mengira Rasidin keturunan Sunan Giri dan bukannya keturunan Sunan Kalijaga. Padahal jelas Rasidin itu bukan keturunan kedua manusia unggul tersebut, melainkan keturunan Sunan Surban.

Sunan itu bentuk jamak dari sunnah. Surban itu kependekan dari kasur dan bantal. Jadi, Rasidin adalah keturunan hasil dari dua orang yang mengerjakan ibadah sunnah berjamaah yang masjidnya kasur dan sajadahnya bantal.

Sedangkan si Mbak Bidan, mungkin sama-sama keturunan Sunan Surban, hanya saja warna surbannya berbeda.

BP kkb Sambong, 26 Juni 2013 – 12.16

About the author

Faishal Himawan
(Tidak) pernah TK, pernah nyantri di Gontor, pernah ngustadz di Banyuwangi, pernah berkeliling jualan krupuk di Aikmel-Lombok Timur, pernah kuliah Tafsir-Hadits di Sunan Ampel Surabaya, pernah menjadi operator warnet di Surabaya, pernah sebentar mbantu-mbantu Bangbangwetan periode pertama, pernah coba-coba buka usaha di Mojokerto, pernah "kerja-bakti" 3 bulan di Blora sebelum mendapat gaji pegawai negeri, pernah ke sana-kemari 2 tahun di Randublatung "hanya demi" terlaksananya sebuah "berita": akan ada 2 orang yang berkonspirasi untuk menyiasati. Saat ini sedang menyamar sebagai penyuluh KKB di Kec. Sambong Kab. Blora.

0 comments:

Template by Clairvo Yance
Copyright © 2013 KapaBilitaS and Blogger Themes.