Pertanyaan Paling Bodoh


Sebagai seorang pegawai, ia mestinya rajin mengerjakan SPJ. Kemudian menyetorkannya. Selanjutnya tinggal menunggu hari sampai kombinasi surat tugas/undangan-kuitansi-antologi tandatangan itu menjelma jadi lembaran-lembaran Rupiah.

Tapi benarkah ia seorang pegawai? Pertanyaan ini senantiasa berdenging di telinga batinnya. Kemudian disusul dengingan pertanyaan yang lain: Seorang pegawai yang benarkah ia?

Kata orang bijak, kehidupan adalah universitas terbaik kedua setelah kematian. Dan di universitas, satu pertanyaan pendek tidak pantas direspon dengan jawaban yang sama pendeknya. Seperti ketika ia masih kuliah dulu, satu pertanyaan dari Bapak Dosen mesti ia respon dengan jawaban sebanyak satu lembar kertas folio bolak-balik. Kenyataan ini berlaku baginya di semua mata kuliah, kecuali mata kuliah Aqidah. Masih segar di ingatan, lima pertanyaan dalam ujian mata kuliah Aqidah ia respon dengan menulis ulang lima pertanyaan itu sebagai jawaban.

Maka bingunglah ia. Dijawab dengan jawaban panjang-lebar ataukah menjadikan pertanyaan “benarkah ia seorang pegawai?” dan “seorang pegawai yang benarkah ia?” sebagai jawaban. Belum jelas benar baginya apakah persoalan SPJ itu termasuk materi mata kuliah Aqidah atau bukan. Jika termasuk materi Aqidah, mengapa di dalam SPJ sama sekali tak tercantum nama Tuhan, sedangkan dalam proses masuknya sesuap nasi ke mulut saja, jika tidak sedang lupa, nama Tuhan senantiasa dicantumkan? Jika tidak termasuk, mengapa setiap kali ia memulai mengerjakan SPJ sampai dengan menerima Rupiah hasil SPJ, selalu berdenging di telinganya pertanyaan yang lain: Kepada Tuhan yang sebelah manakah engkau menghadapkan wajah?

Pada suatu malam ia pernah menjawab, “Kalau yang Engkau kehendaki adalah menghadapnya wajahku ke wajah-Mu, mengapa aku Kau letakkan di sini sehingga harus berurusan dengan SPJ-SPJ sialan ini?”

Tapi jawaban itu segera ia putihkan. Melintasnya Musa dan Khidir di jalan fikir memberinya satu kesadaran: Jangan bertanya. Guru mana yang tak jengkel ketika sedang konsentrasi memberikan contoh tiba-tiba muridnya menyela dengan pertanyaan paling bodoh, “Guru, berapa lama lagi tiba saat istirahat?”

Pojokwatu, 2 Mei 2013 – 12.48

About the author

Faishal Himawan
(Tidak) pernah TK, pernah nyantri di Gontor, pernah ngustadz di Banyuwangi, pernah berkeliling jualan krupuk di Aikmel-Lombok Timur, pernah kuliah Tafsir-Hadits di Sunan Ampel Surabaya, pernah menjadi operator warnet di Surabaya, pernah sebentar mbantu-mbantu Bangbangwetan periode pertama, pernah coba-coba buka usaha di Mojokerto, pernah "kerja-bakti" 3 bulan di Blora sebelum mendapat gaji pegawai negeri, pernah ke sana-kemari 2 tahun di Randublatung "hanya demi" terlaksananya sebuah "berita": akan ada 2 orang yang berkonspirasi untuk menyiasati. Saat ini sedang menyamar sebagai penyuluh KKB di Kec. Sambong Kab. Blora.

0 comments:

Template by Clairvo Yance
Copyright © 2013 KapaBilitaS and Blogger Themes.