Jiwa yang Lain


Ia terlihat berada di antara mereka. Tetapi sesungguhnya ia tidak berada di antara mereka. Ia terlihat ikut tertawa ketika mereka tertawa mendengar cerita konyol pengalaman njajan-nya seorang kepala Desa yang masih saja njajan meski mataharinya sudah berada di senja. Sesungguhnya ia tidak tertawa, seratus delapan puluh derajat dari itu, sebenarnya ia menangis.

Ia terlihat berbicara menanggapi obrolan mereka. Tetapi sesungguhnya ia diam: sibuk dengan bait-bait puisi yang mengalir di jalan fikir. Kalau ia terlihat berbicara, itu hanya hasil gerak reflek bibirnya serta sedikit keterlatihan telinganya dalam memahami sebuah pembicaraan hanya berdasarkan tiga kata terakhir yang keluar dari bibir kawan bicaranya.

Ia sendiri kadang tersadar: kelainan jiwa macam apa yang sedang diidapnya? Tetapi bukankah Muhammad adalah orang berkelainan jiwa menurut hampir seluruh masyarakatnya?

Muhammad sungguh-sungguh tidak berkelainan jiwa. Kalau jiwanya lain dari yang lain-lain, itu pasti iya. Ketika jiwa yang lain menuntut tidur di atas kasur empuk dan lembut sehingga dari jiwa itu kelembutan tercabut, jiwa Muhammad memilih tikar kasar. Kala jiwa seluruh pedagang curang dan mengurangi timbangan demi gunung keuntungan, jiwa Muhammad menyebutkan harga kulakan dan terserah pembelinya apakah akan membeli dengan harga yang sama dengan harga kulakan atau sedikit menambahnya.

Ketika kakek moyang Freemason, Abdullah bin Saba’, berkali-kali melakukan pembunuhan karakter jiwa Muhammad, Muhammad tidak lantas mencabut pedang dan melakukan pembunuhan yang sama. Padahal Muhhamad sedang berkuasa. Muhammad sangat mengerti bahwa apa yang menimpanya hanyalah bagian cerita, sedangkan cerita, tidak ada ceritanya tokoh cerita memberontak kepada pengarang cerita. Adapun jika Abdullah bin Saba’ pada akhirnya mati di tangan anaknya sendiri, yang hebat bukan Muhammad melainkan Pengarang Cerita.

Cerita hampir serupa bisa dijumpai pada diri Wahsyi pembunuh Hamzah yang kemudian menjadi pembunuh orang yang menyuruhnya membunuh Hamzah.  Atau pada diri Umar bin Abdul Aziz yang mengembalikan secara total nama baik Ali bin Abi Thalib setelah nama baik itu dicuri oleh kakeknya sendiri, Muawiyah. Juga pada diri Indonesia: rakyat dibunuh oleh wakil rakyat, kebijaksanaan di-uppercut oleh kebijakan, jalan raya dibikin supaya banyak orang celaka, gedung dibangun supaya penghuninya mati tertimbun reruntuhannya, kepemimpinan diraih tidak oleh kualitas jiwa kepemimpinan melainkan oleh uang, dan jika uang yang disetorkan dirasa kurang, bisa dilunasi dengan tubuh istri yang boleh dinikmati di dalam maupun di luar negeri. Yang lebih ngeri, solusi pelunasan kekurangan uang itu datang dari si istri sendiri.

Begitulah cerita yang baik. Semakin berliku dan semakin tidak mudah sebuah cerita ditebak, semakin bermutulah cerita itu. Sehingga untuk mengetahui bermutu atau tak bermutunya kehidupan seseorang, cukup dengan membaca jalan ceritanya. Dari jalan cerita itu bisa diketahui, diperankan sebagai tokoh utama atau tokoh figurankah seseorang itu oleh Pengarang Cerita. Bisa diketahui juga, diperankan sebagai protagonis atau antagoniskah seseorang itu.

Maka orang yang hidupnya “lurus-lurus saja”; orang yang hidupnya diselubungi kemudahan-kemudahan buatan; orang yang bagai sapi yang meminum susunya sendiri, perlu mengajukan pertanyaan ke dalam diri: bermutukah hidupku?

Ada tiga jenis tamu. Pertama, tamu yang mengganggu. Kepada tamu ini tuan rumah sering enggan untuk membukakan pintu, atau kadang cukup dengan memberinya sekeping lima ratusan. Kedua, tamu yang tidak disukai. Kepada tamu ini tuan rumah segera memenuhi seluruh kebutuhan tamunya dengan tujuan agar si tamu segera pergi. Ketiga, tamu yang dicintai. Kepada tamu ini dihidangkan secangkir kopi, sepiring tempe goreng, dan sebungkus rokok. Ketika secangkir kopi habis, istri tuan rumah segera menghidangkan secangkir kopi yang baru. Ketika sepiring tempe goreng habis, istri tuan rumah segera menghidangkan sepiring tempe goreng lagi. Begitu pula yang terjadi dengan sebungkus rokok. Demikian seterusnya. Peristiwa ini terjadi agar si tamu tidak segera pamit dan pergi.

"Jiwa yang Lain" tergambar pada tamu ketiga. Ia tak menuntut terpenuhinya segala kebutuhan. Ia hanya “meladeni” apa-apa yang dihidangkan oleh Tuan Rumah kepadanya. Persis seperti tokoh cerita yang tunduk kepada Pengarang Cerita.

Pojokwatu, 4 Mei 2013 – 17.10

About the author

Faishal Himawan
(Tidak) pernah TK, pernah nyantri di Gontor, pernah ngustadz di Banyuwangi, pernah berkeliling jualan krupuk di Aikmel-Lombok Timur, pernah kuliah Tafsir-Hadits di Sunan Ampel Surabaya, pernah menjadi operator warnet di Surabaya, pernah sebentar mbantu-mbantu Bangbangwetan periode pertama, pernah coba-coba buka usaha di Mojokerto, pernah "kerja-bakti" 3 bulan di Blora sebelum mendapat gaji pegawai negeri, pernah ke sana-kemari 2 tahun di Randublatung "hanya demi" terlaksananya sebuah "berita": akan ada 2 orang yang berkonspirasi untuk menyiasati. Saat ini sedang menyamar sebagai penyuluh KKB di Kec. Sambong Kab. Blora.

0 comments:

Template by Clairvo Yance
Copyright © 2013 KapaBilitaS and Blogger Themes.