Untuk Orang Kaya, Dari Orang Miskin


Zar, Rumi benar ketika berkata, “Orang paling miskin di antara kalian adalah orang yang paling kaya.” Dua lembar seratus ribuan sengaja aku masukkan ke dalam sebuah amplop. Di hadapan seorang teman aku pamit pergi sembari berkata, “Aku pergi dulu untuk nyangoni orang kaya.”

Apalagi sebutan yang lain untuk menyebut orang yang sudah punya pangkat, mobil, dan rumah lumayan megah selain orang kaya? Bandingkan dengan aku yang berkememungkinan besar tidak naik pangkat hingga lima tahun ke depan, yang belum punya rumah, dan lebih parah lagi: sejak bayi hingga kini belum punya sepeda motor sendiri.

Toh kenyataan itu sama sekali tak menghadang keadaan di mana yang miskin mesti ngopeni yang kaya. Memang uang itu bukan uangku sendiri, tetapi bukankah uang, daripada dimubadzirkan di vila si kaya, lebih baik dimanfaatkan setotal-totalnya di gubuk si miskin?

Sekali-kali jangan sebut aku miskin, Zar. Aku  boleh tidak punya persyaratan untuk disebut orang kaya, tapi itu tak berarti aku tak mampu menjadi kaya. Kaya-miskin, bagiku, hanyalah pilihan. Aku boleh datang untuk mencooblos atau mencontreng salah satu dari dua pilihan itu, tapi seperti terhadap pilkades, pilbup, pilgub, pilpres, aku tak pernah datang. Aku memilih tak datang, sebab aku tak pernah mengenal kaya dan miskin. Atau, bagiku, “letak” kaya-miskin tidak berada pada sesuatu yang kusebutkan di muka.

Kaya-miskin ada di akal, kemudian hati, kemudian jiwa. Di luar tiga hal ini: debu.

Kembali kepada amplop tadi, prosesi serah terima amlop tersebut kurasakan seperti prosesi penyerahan upeti. Heran aku, Zar: berada pada zaman kerajaan atau zaman republikkah aku sekarang ini? Lebih mengherankan lagi, orang kaya yang kusodori amplop tersebut dengan nada akrab bertanya, “Ini untuk kami atau untuk aku saja?”

Aku sendiri yang keliru, Zar. Harusnya amplop tersebut kububuhi tulisan: Untuk Orang Kaya, Oleh Orang Miskin.

Pojokwatu, 29 Mei 2013 – 16.21

About the author

Faishal Himawan
(Tidak) pernah TK, pernah nyantri di Gontor, pernah ngustadz di Banyuwangi, pernah berkeliling jualan krupuk di Aikmel-Lombok Timur, pernah kuliah Tafsir-Hadits di Sunan Ampel Surabaya, pernah menjadi operator warnet di Surabaya, pernah sebentar mbantu-mbantu Bangbangwetan periode pertama, pernah coba-coba buka usaha di Mojokerto, pernah "kerja-bakti" 3 bulan di Blora sebelum mendapat gaji pegawai negeri, pernah ke sana-kemari 2 tahun di Randublatung "hanya demi" terlaksananya sebuah "berita": akan ada 2 orang yang berkonspirasi untuk menyiasati. Saat ini sedang menyamar sebagai penyuluh KKB di Kec. Sambong Kab. Blora.

0 comments:

Template by Clairvo Yance
Copyright © 2013 KapaBilitaS and Blogger Themes.