Pembongkar


Zar, selalu ada hari di mana matahari tak bersinar sama sekali. Tapi tak bersinar tak similar dengan sirna. Matahari, yaitu makhluk yang menakjubkan itu, hanya kalah bersaing dengan tumpukan gumpalan-gumpalan awan. Alhasil, pukul dua belas siang, yaitu waktu di mana puncak pencerahan tercapai, suasana tetap saja subuh. Atau senja.

Hari yang seperti itu baru saja terjadi kemarin. Kemarin bukan hanya hari yang tak cerah, lebih dari itu: basah. Perjalananku menuju kantor induk yang berjarak sekitar tiga puluh kilometer dari kantor cabang tak terhindar dari basah itu, oleh tetes-tetes gerimis, tetesan-tetesan yang selalu mengingatkanku pada ruang kosong di antara butiran-butiran lembut itu.

Perjalananku dari kantor induk ke warung untuk berbagi rasa dengan seorang teman sambil menunggu datangnya bendahara kantor, perjalananku dari warung ke kantor induk untuk mengambil hak bernama Tunjangan Perbaikan Penghasilan, perjalananku dari kantor induk ke sebuah masjid untuk menunaikan shalat Dhuhur, perjalananku dari masjid ke rumah seorang teman untuk meng-copy-paste file-file yang berkaitan dengan angka kredit dan kenaikan pangkat, serta perjalananku dari rumah teman kembali ke rumah kontrakanku, seluruhnya berbalut gerimis. Tubuhku, sebagaimana telah sejak lama kau tahu kebiasaanku, selalu enggan untuk dilapisi jas hujan.

Seluruh perjalanan itu, Zar, sungguh tidak nyaman. Ketidakcerahan sungguh-sungguh berbanding lurus dengan ketidaknyamanan. Sehingga aku sungguh-sungguh heran dengan orang-orang yang bisa hidup sangat nyaman di tengah kepungan ketidakcerahan: ketidakcerahan perbuatan, ketidakcerahan ucapan, ketidakcerahan pikiran—pikiran dari luar maupun pikiran dari dalam diri sendiri.

Omong-omong tentang ketidakcerahan, aku jadi teringat dengan film Sang Pencerah, yaitu film yang tak pernah kutonton secara sungguh-sungguh, juga sebuah film yang sebentar lagi akan disaingi oleh sebuah film yang lain, Sang Kyai, yaitu sebuah film yang tak akan pernah kutonton meskipun yang mengajakku nonton adalah Izrail. Aku tak punya cukup stok kesungguhan untuk dihabiskan di hadapan sesuatu yang monoton. Dan aku tak punya cukup persediaan kesediaan untuk dimubadzirkan di hadapan sesuatu yang riuhnya melebihi gemlodag-nya truk tronton.

Aku tidak sedang apatis, Zar, aku hanya sedang kurang sabar. Jika engkau punya sisa waktu, cermatilah kata-kataku: Sang Pencerah adalah sebuah judul yang terlalu megah, sedangkan Kanjeng Nabi Muhammad tak pernah bermegah-megahan, tak pernah berlebih-lebihan. Dalam segala hal. Adapun Sang Kyai, tidakkah telingamu tergelitik: alangkah absurdnya judul itu.

Kau tahu absurd, kan? Absurd itu kurang lebih sama dengan emboh. Dalam percakapan Jawa, “emboh” biasanya bersambung dengan “gak weruh”. Jadi emboh tidak sama dengan gak weruh. Kalau dikembalikan dalam kerangka cerah-gelap, gak weruh sama dengan keadaan gelap, sedangkan emboh sama dengan keadaan sebelum gelap malam; suasana senja; suasana tak cerah. Suram.

Akan tidak sedikit jumlah orang tersinggung oleh kesimpulanku yang terlalu dini ini. Di antara yang tersinggung itu, pasti ada yang meninju mukaku. Ah, tidak. Bukan pasti ada, melainkan sudah pernah ada. Sebagaimana yang engkau tahu, ibumu lah yang menjemputku di “ring tinju” itu. Ring tinju tempat seorang diri Oscar de la Hoya di-hook, jab, straight, dan uppercut oleh Evander Holyfield, George Foreman, Michael Spink, dan Mike Tyson secara bersamaan.

Matikah aku oleh itu? Tidak, Zar. Bahkan kematian si “Goerge Foreman” yang brangasan dan kampungan itu tak membuatku tertarik untuk ikut-ikutan mati. Karena perjuanganku tidak seremeh misalnya untuk membalas dendam kepada “Goerge Foreman”. Atau kepada siapa pun. Perjuanganku adalah perjuangan seorang anak yang mendapat warisan gudang penuh buku sekaligus warisan satu pertanyaan yang mana pertanyaan itu hanya bisa dijawab dengan tepat setelah si anak membongkar gudang tersebut untuk mengeluarkan isi dari satu persatu buku-buku itu.

Di samping “membongkar”, analogi lain tentang  perjuanganku adalah perjuangan untuk “terus berjalan tanpa jas hujan” di bawah ketidakcerahan yang “basah”, “licin”, “berlubang”, dan “jauh”.

Perjuangan? Hahaha ... lucunya aku, Zar. Sok gagah dengan membawa-bawa kata “berjuang”. Engkau pasti lebih terbahak ketimbang aku, kemudian dengan nada rendah khasmu itu engkau pasti akan berseloroh, “Bahkan Darto Perang jagoan Surabaya ‘45 yang ditinggal oleh buku sejarah itu tak pernah menyebut-nyebut kata “berjuang”.”

Zar, Engkau bebas berseloroh apa saja. Aku pun bebas sok gagah segagah-gagahnya. Orang baik pasti setuju kalau berseloroh selalu lebih baik daripada bersekongkol. Dan sok gagah selalu lebih gagah daripada nggagahi siapapun yang mutlak tak berhak dan mutlak tak berkewajiban digagahi.

Pojokwatu, 28 Mei 2013 – 22.01

About the author

Faishal Himawan
(Tidak) pernah TK, pernah nyantri di Gontor, pernah ngustadz di Banyuwangi, pernah berkeliling jualan krupuk di Aikmel-Lombok Timur, pernah kuliah Tafsir-Hadits di Sunan Ampel Surabaya, pernah menjadi operator warnet di Surabaya, pernah sebentar mbantu-mbantu Bangbangwetan periode pertama, pernah coba-coba buka usaha di Mojokerto, pernah "kerja-bakti" 3 bulan di Blora sebelum mendapat gaji pegawai negeri, pernah ke sana-kemari 2 tahun di Randublatung "hanya demi" terlaksananya sebuah "berita": akan ada 2 orang yang berkonspirasi untuk menyiasati. Saat ini sedang menyamar sebagai penyuluh KKB di Kec. Sambong Kab. Blora.

0 comments:

Template by Clairvo Yance
Copyright © 2013 KapaBilitaS and Blogger Themes.