Komedi Informasi dari Desa Gagakan


Kata seseorang, informasi adalah cahaya. Buktinya, kata orang itu, bukankah Alquran adalah sekumpulan informasi?

Sebagaimana setiap orang berkemungkinan benar dan berkemungkinan salah, juga berkemungkinan ada benarnya dan berkemungkinan ada salahnya, begitu pula dengan orang yang bilang bahwa informasi adalah cahaya: ia mungkin ada salahnya, atau bahkan mungkin benar-benar salah.

Pada suatu senja, salah satu stasiun televisi, lewat acara Orang Pinggiran, menginformasikan bahwa di desa Gagakan, yaitu satu dari sepuluh desa yang ada di wilayah Kecamatan Sambong Kabupaten Blora, ada sebuah keluarga yang menderita kemiskinan sedemikian parahnya. Saking parahnya kemiskinan itu, informasi tersebut sampai perlu disertai dengan gambar bergerak kehidupan sehari-hari keluarga tersebut. Tentu saja gambar bergerak itu berupa rupa-rupa output kemiskinan keluarga tersebut.

Pemirsa acara yang jauh dari desa Gagakan mungkin akan trenyuh atau jatuh kasihan melihat kemiskinan tingkat parah yang dipentaskan oleh keluarga tersebut. Bagaimanapun, kapanpun, dan di manapun, kecuali hati yang tak lagi bulat dan utuh, kemiskinan merupakan keadaan yang hati siapapun pasti tersentuh. Setidaknya pasti ada komentar, “Masak ya masih ada orang yang hidup sebegitu menderitanya pada zaman yang sebegini asyiknya.”

Itulah hebatnya televisi: kuasa memobilisasi, bahkan mempesawatterbangi. Keluarga yang baru saja membeli sebidang tanah cukup lapang dan memiliki dua buah sepeda motor, dalam waktu singkat bisa disulap menjadi keluarga prasejahtera alias keluarga sangat miskin sekali. Persis seperti pertunjukan komedi yang pemainnya bisa berganti peran menjadi apa saja, termasuk menjadi banci atau waria. Yang penting lucu. Tak soal apakah kelucuan itu bersifat menghibur atau justru berkarakter penghancur.

Kelucuan yang lain, komedi informasi tersebut, berdasarkan informasi dari Sekdes yang bersangkutan, tak lepas dari peran Bayan Desa yang, entah kebetulan entah tidak kebetulan, rumahnya berhadapan dengan rumah keluarga yang ditampilkan di acara Orang Pinggiran. Sehingga muncul dugaan kalau dalam hal itu, Bayan mempunyai kepentingan di sektor pembagian keuntungan.

Dugaan lain, kru Orang Pinggiran dikejar deadline jam tayang sehingga terpaksa mengambil jalan pintas nan tak pantas dengan cara memantas-mantaskan kemudian mementaskan orang tak miskin sebagai orang miskin di hadapan jutaan mata manusia. Dugaan ini sama kuatnya dengan dugaan terakhir: acara Orang Pinggiran adalah acara yang seluruhnya dagelan, mulai dari proses pemilihan tokohnya, proses pembuatan skenario dan naskahnya, hingga proses pementasannya. Komedi informasi mencapai peak perfomance-nya ketika “lagu kebangsaan” Orang Pinggiran diberi hiasan “Tuhan kan berikan jalan ...”

Kalau sudah seperti itu, cahayakah informasi yang "diwahyukan” oleh stasiun televisi lewat “malaikat” Orang Pinggiran itu?

Cepu, 12 Juni 2013 – 17.35

About the author

Faishal Himawan
(Tidak) pernah TK, pernah nyantri di Gontor, pernah ngustadz di Banyuwangi, pernah berkeliling jualan krupuk di Aikmel-Lombok Timur, pernah kuliah Tafsir-Hadits di Sunan Ampel Surabaya, pernah menjadi operator warnet di Surabaya, pernah sebentar mbantu-mbantu Bangbangwetan periode pertama, pernah coba-coba buka usaha di Mojokerto, pernah "kerja-bakti" 3 bulan di Blora sebelum mendapat gaji pegawai negeri, pernah ke sana-kemari 2 tahun di Randublatung "hanya demi" terlaksananya sebuah "berita": akan ada 2 orang yang berkonspirasi untuk menyiasati. Saat ini sedang menyamar sebagai penyuluh KKB di Kec. Sambong Kab. Blora.

0 comments:

Template by Clairvo Yance
Copyright © 2013 KapaBilitaS and Blogger Themes.