Lubang-lubang Sepanjang Jalan
Sungguh tak akan berubah kerusakan suatu kaumSampai masing-masing anggota kaum ituBersungguh-sungguh mengubah kejiwaannya(Alquran)
Perjalanan baru saja
melewati batas. Lega. Tapi belum sepenuhnya lega. Di depan sana masih ada
beberapa lubang yang wajib dihindari setelah baru saja selesai menghindari
berpuluh-puluh lubang. Ironis yang kronis: di sini lubang di sana lubang.
Selain di sepanjang jalan, di sisi sebelah kiri agak menjorok ke dalam, juga
ada lubang. Di sini lubang di sana lubang, keduanya sama-sama mencelakakan.
Hanya pemimpin
berjiwa celaka saja yang bisa membiarkan jalan separah ini, cetus sang kawan.
Cetusan yang cukup beralasan: lubang-lubang sepanjang jalan ini sudah
sedemikian mencelakakakn dan menelan banyak korban, mulai dari yang cedera
ringan sampai dengan yang diiringkan menuju kuburan. Sedangkan Umar ibn Abd
Aziz sampai menangis, padahal yang terpeleset hanya seekor kuda.
Tapi bukan hanya
pemimpinnya saja yang berjiwa celaka. Yang dipimpin pun mayoritas berjiwa
celaka. Sementara pihak yang dipercaya untuk mewakili yang dipimpin lebih
celaka lagi: mencelakakan pemimpin sekaligus mencelakakan yang dipimpin.
Kok
bisa yang dipimpin kausebut juga berjiwa celaka? Tanya sang kawan.
Kalau jiwa mereka
bukan jiwa celaka, mereka tidak akan memilih orang berjiwa celaka untuk
memimpin mereka lima tahun lamanya. Kalau jiwa mereka bukan jiwa celaka, mereka
tidak akan memilih orang-orang celaka untuk mewakili mereka. Bagaimana tidak
celaka, lha wong mereka begitu gampangnya dibuai dengan fatamorgana.
Bukankah uang adalah salah satu anggota dari himpunan fatamorgana?
Ah,
itu kan cari enakmu sendiri, mentang-mentang kamu tidak pernah satu kali pun
masuk bilik suara, bantah sang kawan.
Ya,bolehlah kausebut
dengan cari enakku sendiri. Tapi, bukankah pemimpin adalah cerminan masyarakat
yang dipimpinnya? Kalau pemimpinnya seorang pencuri, kemungkinan terpasti
adalah bahwa mayoritas masyarakat yang dipimpinnya adalah pencuri. Itulah
sebabnya mengapa dulu Muhammad bilang “beruntunglah orang-orang yang asing”.
Bahkan salah satu doa Muhammad berbunyi “masukkan aku ke dalam kelompok yang
sedikit”.
Maka kalau sepanjang
jalan ini, atau kalau jalan sepanjang ini, berlubang-lubang, berarti pemimpin
beserta mayoritas masyarakatnya adalah pecinta lubang? Sergah sang kawan.
Itu istilahmu. Aku
tak berhak mengiyakan atau pun mentidakkan. Terhadap fenomena lubang sepanjang
jalan ini aku lebih condong untuk berasumsi bahwa pemimpin beserta mayoritas
masyarakatnnya adalah penggemar permainan dakon. Jadi daripada ratusan guru
terpaksa mengorbankan ribuan anak didiknya untuk mengikuti latihan senam demi
memecahkan rekor MURI, lebih baik acara senam itu diganti dengan pertandingan
dakon sepanjang jalan, sehingga para guru tidak perlu meninggalkan anak
didiknya, sebab di depan sekolah mereka masing-masing tersedia cukup banyak
stok lubang.
Pojokwatu,21 April
2013 – 01.17
0 comments: