Hidup/Bekerja: Antara yang Sungguh-sungguh dengan yang Main-main


Satu jenis praduga bersalah yang sering menimpa saya adalah bahwa saya dikira termasuk jenis manusia patuh yang iya-iya saja jika disuruh-suruh. Saking bersalahnya praduga itu, sampai ada yang kemudian meningkatkan intensitas dugaan itu dari sekadar mudah disuruh ke mudah diakali dan mudah ditipu. Episode terkini kehidupan saya membuktikan kenyataan itu. Dan hanya sekitar empat sampai lima orang teman saja yang benar-benar tahu bahwa episode terkini itu tidak murni akal-akalan dan tipuan melainkan juga diperkuat oleh dukungan koalisi partai jin-setan, yang tentu saja setelah koalisi itu mendapatkan izin dari Tuhan. Maka siapakah yang bisa mengelak dari kehendak Tuhan?

Belum lepas dari tipuan pertama, datanglah akal-akalan berikutnya. Seseorang yang berdasarkan apa kata SK adalah atasan saya, dengan seenak mulutnya menyatakan kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan bidang kerja saya bahwa “segala uang”, saya lah yang memegang, sehingga jika pihak-pihak yang berkaitan itu belum menerima uang hak mereka, saya lah yang ngunthal. Padahal, jangankan uang hak mereka, uang hak saya pun dia telan tanpa sisa, plus meninggalkan tanggungan sekian Rupiah kepada 11 orang kader desa. Tanggungan yang siapa lagi kalau bukan saya yang berkewajiban “membereskannya” dengan sebuah pidato sok bijak, “Mari kita kasihani dia dengan mengikhlaskan uang hak panjenengan itu. Dan panjatkan doa kebaikan untuk anak-cucunya: semoga anak-cucunya tidak ikut menanggung akibat dari apa yang dia buat.”

Tapi sepedih apa pun fitnah itu, ada satu kesimpulan yang saya syukuri: ada orang yang hidup berdasar rasa malu, ada orang yang hidup memperturutkan apa kata kemaluan. Jika ada waktu luang, datanglah ke tempat saya, dan akan Anda lihat orang itu melintas di depan rumah kontrakan saya (lengkap dengan helm gelapnya) menuju ke atau pergi dari rumah kontrakan wanita simpanannya. SK pensiun dan organ-organ tubuh yang mengerut dan menua tampaknya belum cukup menjadi tanda baginya.

Baru saja lepas dari satu tipuan dan satu akal-akalan, datanglah “kereta” berikutnya. “Kereta” yang memuat dugaan sebagaimana tersebut di paragaraf pertama: bahwa saya jenis manusia patuh yang iya-iya saja jika disuruh-suruh. Terhadap “kereta” terbaru ini, keluhan saya kepada seorang teman biasanya begini bunyinya, “Kalau dia ditempatkan di sini hanya untuk membebankan seluruh pekerjaan kepada satu orang, sedangkan jelas-jelas seluruh pekerjaan itu harus dikerjakan bersama-sama atau setidaknya dibagi dua, maka apa bedanya dia dengan benalu? Kalau hanya untuk datang pukul delapan dan pulang pukul tiga, negara ini tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk menggaji orang dengan spesifikasi tertentu, karena orang gila pun bisa mengerjakan pekerjaan datang-pulang itu.”

Sebenarnya adanya dugaan itu juga tak lepas dari “saham” yang saya tanam sendiri. Prinsip bahwa kehidupan saya ini maupun pekerjaan saya ini bukan amanah dari si A maupun si B, dari si Bupati maupun si Kepala Dinas, melainkan amanah langsung dari Tuhan, membentuk saya menjadi seorang yang “multi-karya”, siap mengerjakan apa saja. Sedangkan ketika seseorang tampak siap mengerjakan apa saja, khususnya pada zaman tak jelas ini, konsekuensinya adalah bahwa seseorang itu harus siap tidak mengeluh jika disuruh-suruh. Atau setidaknya dimintai tolong.

Bentuk itulah yang tampaknya keliru mereka baca.

Sehingga hilanglah dari mata pandang mereka seorang “saya” yang di masa kuliah dulu hampir di-DO karena memperjuangkan hak 24 mahasiswa miskin yang paket beasiswa empat tahunnya hilang 50 persen, dijadikan bancakan segelintir dosen dan sebagian dijadikan uang tutup mulut segelintir mahasiswa berbendera sebuah organisasi yang iri dan dengki terhadap “nasib baik” kami.

Sehingga hilanglah dari mata pandang mereka seorang “saya” yang tersenyum namun memandang tajam segelintir polisi yang menciduk saya di pinggir jalan dan berjamaah memukuli saya tanpa melewati prosedur interogasi, di kandang mereka—berita terkini yang saya baca, “pimpinan” gerombolan polisi itu baru saja mati akhir tahun kemarin.

Sehingga hilanglah dari mata pandang  mereka seorang “saya” yang bagai spider man merayap dinding lantai tiga sebuah gedung  dengan resiko jatuh dan lepas nyawa demi memperjuangkan hak—sekali lagi—24 mahasiswa miskin yang jangankan untuk ngrental komputer, untuk makan sehari-hari pun sampai ada yang nyambi jadi tukang sapu, tukang adzan, juga tukang baca doa kenduri.

Ya, hilanglah dari mata pandang mereka sebentuk ke-bonek-an yang siap meledak yang saat ini masih berupa setungku air panas menggelegak. Hilang dari mata pandang mereka seorang bayi yang lahir dalam sebuah rumah yang terletak di jalan Wisanggeni sehingga tak bisa menghindar dari tertular watak Wisanggeni, yaitu selembar wayang yang bahkan Batara Guru pun diburu untuk dilabrak, demi mendapatkan “nur”, “cahaya”, kejelasan.

Akankah praduga bersalah dan mata pandang yang hilang itu terus berlangsung hingga kemudian hari? Semoga tidak. Perasaan terhina dan keadaan tertipu-terpedaya semestinya bisa membuat seseorang tiba-tiba menjadi orang baru yang sangat berbeda dengan dirinya sebelumnya.

Perasaan terhina dan keadaan tertipu-terpedaya sesungguhnya adalah anugerah kekuatan yang tiada taranya. Tinggal bagaimana si terhina, si tertipu, atau si terpedaya mengelola dan mendayagunakan kekuatan itu.

Wa nuriidu an namuuna-l-ladziina-s-tudh’ifuu fi-l-ardhi wa ja’alnahumu-l-waaritsiin ...

Pojokwatu, 27 Februari 2013 – 17:25

About the author

Faishal Himawan
(Tidak) pernah TK, pernah nyantri di Gontor, pernah ngustadz di Banyuwangi, pernah berkeliling jualan krupuk di Aikmel-Lombok Timur, pernah kuliah Tafsir-Hadits di Sunan Ampel Surabaya, pernah menjadi operator warnet di Surabaya, pernah sebentar mbantu-mbantu Bangbangwetan periode pertama, pernah coba-coba buka usaha di Mojokerto, pernah "kerja-bakti" 3 bulan di Blora sebelum mendapat gaji pegawai negeri, pernah ke sana-kemari 2 tahun di Randublatung "hanya demi" terlaksananya sebuah "berita": akan ada 2 orang yang berkonspirasi untuk menyiasati. Saat ini sedang menyamar sebagai penyuluh KKB di Kec. Sambong Kab. Blora.

0 comments:

Template by Clairvo Yance
Copyright © 2013 KapaBilitaS and Blogger Themes.