Nama dan Wajah
Jangankan
wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Tentang namamu, orang itu bisa saja
memberitahuku. Tapi ia tidak memberitahu. Tentang namamu, aku bisa saja
bertanya pada orang itu. Tapi aku tidak bertanya. Aku dan orang itu seperti
terlibat dalam kesepakatan rahasia. Suatu kesepakatan yang entah, tentang sebuah
rahasia yang tak mudah.
Jangankan
wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Seperti bayi yang tak minta
dilahirkan, seperti manusia yang tak minta dihidupkan, demikianlah perjalanan
ini dimulai: didasari oleh sesuatu yang absurd; sesuatu yang emboh. Tapi
tidak berarti tak berdasar.
Jangankan
wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Melewati gerbang kota pertama,
hujan turun sejak pukul tiga tadi. Lima menit lebihnya dari jam tiga, aku
berhenti, berteduh di sebuah warung yang tak ada penjualnya juga tak ada
pembeli. Warung sunyi. Setelah melepas jaket seperempat basah, di atas bangku
bambu, sendiri, aku membaringkan tubuh ini—menulis cerita ini: dalam hati.
Jangankan
wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Tapi ketidaktahuan ini bagiku tidak
menjadi penghalang untuk meneruskan perjalananku, setelah hampir satu jam
lamanya menunggu hujan reda yang ternyata tak reda-reda. Ada jas hujan di dalam
tas, sengaja tidak kupakai. Perjalanan berlanjut di bawah tetes-tetes gerimis.
Tapi satu tetes kali lima kilometer adalah basah. Sementara itu, waktu
membisikkan sesuatu: saatnya menyapa Tuhanmu. Aku berhenti di sebuah musholla
pribadi. Benar-benar pribadi, karena untuk berwudhu pun aku masih harus meminta
izin dan menunggu pemilik musholla menyalakan pompa airnya.
Jangankan
wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Oleh karena itu, aku tutup sapaanku
sore ini dengan kalimat ini: cahaya langitnya bumi, cahaya buminya langit,
cahaya timurnya barat, cahaya baratnya timur, cahaya tidak timur tidak barat
yang mencahayai timur dan barat, cahaya segala cahaya, cahaya segenap cahaya,
cahaya di dalam cahaya, cahaya di luar cahaya, cahayanya cahaya, cahayanya nama
siapa saja dan cahaya wajah siapa saja yang membutuhkan cahaya: cahaya yang
tersimpan dalam tabung kaca—dalam alam peristiwa-peristiwa.
Jangankan
wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Tapi aku tahu, engkau pun juga tak
tahu namaku apalagi wajahku. Engkau juga pasti tak tahu betapa seluruh pakaian
yang kupakai, dari yang luar sampai yang dalam, sudah basah total. Sedangkan
perjalanan masih tersisa 3 jam lagi. Dan hujan tampak awet muda dan adil. Tentu
saja aku sendiri yang tolol, sebab sampai sebasah ini belum juga tahu fungsi
dan manfaat jas hujan.
Jangankan
wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Maka demi nama dan wajahmu, juga
demi kesehatanku sampai dengan besok malam di hadapan wajahmu, mau tak mau jas
hujan aku kenakan. Bukan hujan yang aku takuti, tapi rasa dingin yang menusuk
tulang. Tubuhku hampir tak berlemak, sedangkan engkau pun tahu, lemak adalah
jaket alami yang melindungi tulang dari serangan rasa dingin yang bertubi-tubi.
Jangankan
wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Engkau lebih misterius dari Tuhan
yang meskipun wajahnya tidak diketahui tapi berkenan nama-Nya diketahui. Bahkan
tak tanggung-tanggung, bukan satu nama saja yang Ia beritahukan, lebih dari
itu: sembilan puluh sembilan. Sementara satu nama lagi tetap disembunyikan,
agar manusia tak berhenti melakukan perjalanan. Ya, kita dihidupkan tidak untuk
kehidupan itu sendiri, melainkan untuk melakukan perjalanan demi mengenal satu
nama yang Ia sembunyikan itu. Pada suatu waktu, kehidupan adalah petak umpet.
Seperti namamu dan wajahmu yang bertahun-tahun lamanya Ia sembunyikan dari
jangkauan pengetahuanku.
Jangankan
wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Tapi ketidaktahuan, asalkan
seseorang mau melakukan perjalanan, atau “perjalanan”, selalu akan berakhir
dengan pengetahuan. Yang kemudian, cepat atau lambat, dari pengetahuan itu
lahir kembali ketidaktahuan-ketidaktahuan yang lain. Dari sudut ini, akhirnya
kutahu wajahmu. Juga namamu. Tapi pengetahuan ini sunyi dari suaramu. Adapun
wajahmu, wahai, bukankah itu adalah wajahku?
BP kkb Sambong,
8 April 2013 – 13.15
0 comments: