Hal (Tidak) Menjadi Orang Serakah


Dalam sebuah kunjungan yang disempat-sempatkan, seorang teman yang sebenarnya sama sekali tidak ditugaskan untuk mengantarkan surat ke wilayah kerja saya, pada salah satu bab perbincangan kami tiba-tiba berseloroh, “Setelah saya amat-amati, rasa-rasanya hidupmu kok selalu dihadapkan dengan orang-orang serakah.”

Mendengar selorohan itu, tak segores pun ekspresi wajah saya berubah. Kesimpulan itu sudah saya sadari sedari dulu, hanya saja tak pernah saya publikasikan, lisan maupun tulisan. Entahlah, saya selalu merasakan keasyikan tersendiri dalam menyimpan rapat-rapat dan mengubur dalam-dalam kepedihan-kepedihan.  Rasanya seperti mendapat ganjaran atau pahala ibadah.

Kepedihan yang saya simpan ini bukan sebab kerasnya benturan antara keikhlasan dengan keserakahan. Jika kepedihan macam ini yang saya simpan, sejak jaman Pithecantropus (yang Erectus maupun yang tidak Erectus) benih kehidupan yang saat ini tumbuh menjadi “saya”ini sudah mati. Simpanan kepedihan ini juga bukan sebab tumbukan antara ketidakberdayaan dengan gumpalan kekuatan, karena rumusnya jelas. Dan pasti: buta mata menganugerahi penglihatan; “kelemahan” menyimpan berlimpah kekuatan.

Kepedihan ini saya simpan, sebab hanya melalui simpanan kepedihan inilah saya bisa berdialog dengan Nuh ketika duduk jongkok termenung menyaksikan dari kejauhan bakal kapalnya diberaki tetangga kanan-kirinya; berdialog dengan bayi-Musa ketika terapung di aliran sungai Nil menghindari malapetaka mimpi Kepala Negaranya; berdialog dengan Yusuf ketika berdiri memandang birunya langit dari dalam dan hitamnya dasar sumur; berdialog dengan Yunus ketika bersujud di sela-sela tulang rangka seekor ikan; berdialog dengan Yahya ketika terjepit di antara keindahan Tuhan dan kecantikan perempuan; berdialog dengan Zakaria ketika—bahkan—setan tetap memburu dan membunuhnya meski batang pohon adalah tempat pelarian dan persembunyian yang paling mustahil; berdialog dengan Muhammad ketika kejujuran dan keluguannya justru dibalas dengan kotoran unta, kerikil-batu, hingga anak panah dan mata pedang—juga ketika kesederhanaan dan kebersahajaan (yang berarti adalah ketidakserakahan) Muhammad justru dibalas dengan dusta, fitnah, serta pembunuhan karakter dan sikap hidup.

Untung saja teman saya membuat gerakan mengambil rokok di depan saya. Tanpa gerakan itu, ketermenungan saya tadi akan terus berlanjut sampai dengan Abu Dzar al-Ghiffary, Imam Hambali, Jalaluddin Rumi, Oemar Said Cokroaminoto, Umbu Landu Paranggi, Emha Ainun Nadjib ...

Teman saya tampaknya lelah menunggu tanggapan saya terhadap selorohannnya tentang hidup saya sehingga kelelahan itu perlu ia tipu dengan menyaksikan tarian asap rokok.

“Ada tiga kemungkinan terhadap apa yang tampak di matamu tentang salah satu bab hidupku. Pertama, aku dihadapkan dengan orang-orang serakah karena sampai dengan saat ini aku insya Allah tidak termasuk sebagai orang serakah, rumusnya jelas: Pandawa vs Kurawa. Kedua, aku dihadapkan dengan orang-orang serakah karena saya mungkin termasuk orang serakah, rumusnya juga cukup jelas: sekian belas partai berhadap-hadapan untuk bertikai, padahal sama-sama Golkar. Ketiga, aku dihadapkan dengan orang-orang serakah agar aku istiqamah untuk tidak menjadi orang serakah, sehingga terus-menerus disuguhi tontonan menjijikkan berjudul Alangkah Lucu dan Menggemaskannya Orang Serakah Itu.

Untung saja teman saya ini termasuk jenis orang yang mau berpikir agak panjang dan lama (panjang dan lama dalam arti yang sesungguhnya, sebab nyatanya ada panjang dan lama yang tidak sungguh-sungguh). Karena kalau tidak, tiga kemungkinan tersebut tidak akan pernah saya publikasikan—lisan maupun tulisan.

Pojokwatu, 16 April 2013 – 21.50

About the author

Faishal Himawan
(Tidak) pernah TK, pernah nyantri di Gontor, pernah ngustadz di Banyuwangi, pernah berkeliling jualan krupuk di Aikmel-Lombok Timur, pernah kuliah Tafsir-Hadits di Sunan Ampel Surabaya, pernah menjadi operator warnet di Surabaya, pernah sebentar mbantu-mbantu Bangbangwetan periode pertama, pernah coba-coba buka usaha di Mojokerto, pernah "kerja-bakti" 3 bulan di Blora sebelum mendapat gaji pegawai negeri, pernah ke sana-kemari 2 tahun di Randublatung "hanya demi" terlaksananya sebuah "berita": akan ada 2 orang yang berkonspirasi untuk menyiasati. Saat ini sedang menyamar sebagai penyuluh KKB di Kec. Sambong Kab. Blora.

0 comments:

Template by Clairvo Yance
Copyright © 2013 KapaBilitaS and Blogger Themes.