Underrated Player


Dari 11 pertemuan terakhirnya di semua kompetisi melawan MU, Arsenal hanya bisa menang satu kali. Demikian bunyi satu dari “butir-butir” statistik yang berceceran di halaman-halaman, koran maupun website. Jadi, berdasarkan kesepakatan “masyarakat gila detail” itu, butir statistik esok hari akan berbunyi “Dari 12 pertemuan terakhirnya di semua kompetisi melawan MU, Arsenal hanya bisa menang 1 kali”.

Pedulikah Ferguson maupun Wenger terhadap statistik itu? Ternyata tidak. Ferguson tahu, statistik hanyalah masa lalu. Sedangkan masa lalu tak akan pernah berlaku bagi orang yang selalu memandang ke depan sepertinya. Di sisi lain, alih-alih berbicara tentang pertandingan atau pun berbicara tentang mantan anak asuhnya (van Persie), Wenger justru berbicara tentang Michael Carrick, “Saya memilihnya (Michael Carrick) untuk memenangi PFA Player of the Year.”

Sekadar sebuah psywar atau justru sebuah isyarat bahwa pada pertandingan ke-12 nanti, bukan van Persie yang akan dibikin “mati” melainkan Michael Carrick? Atau jangan-jangan Wenger sedang “naksir” Michael Carrick dan berharap Ferguson mau melepaskannya mengingat usianya yang sudah 31?

Tuhan dan Wenger sendiri yang tahu secara pasti arti pernyataan itu. Tapi bagi orang-orang yang melihat sepakbola bukan sebagai sebuah kejuaraan melainkan sebagai sebuah kesenian juga sebagai sebuah kehidupan, pernyataan itu menunjukkan bahwa memang sudah sepantasnya Wenger dilengserkan dari singgasana kepelatihannya.

Hanya seorang seniman yang bisa melihat peran lebih besar seorang Michael Carrick dibanding pemain-pemain MU yang lain. Suatu “peran lebih besar” yang mirip dengan yang dilakoni Sergio Busquet di Barcelona.

Jadi harapan agar Wenger lengser bukan berdasar kebencian melainkan rasa kasihan kepada jutaan fans Arsenal: bagi seorang seniman, kalah atau menang, juara atau tidak juara, tak akan pernah menjadi masalah.

Fokus seorang seniman bukan kemenangan melainkan keindahan. Maka Arsenal butuh Mourinho.

Pojokwatu, 28 April 2013 – 17.03

0 comments:

Tak Datang Tak Pergi

di dalam dirimu
sendiri
tak ada yang datang juga yang pergi
tak ada yang lain selain yang sejati
temui yang sejati di dalam diri
tundukkan diri sepanjang hari

ke dalam dirimu
sendiri
ceburkan diri
ke api abadi

Pojokwatu, 27 April 2013
- 07.01

0 comments:

Katakan Tidak Padahal Korupsi


katakan tidak padahal korupsi
katakan jujur padahal ngapusi
katakan bekerja padahal menganggur
katakan perawan padahal pelacur

katakan apa saja bagaimana saja
sebab tak ada hukum dunia yang mengatur
berapa tahun penjara untuk siapa saja
yang berjalan sambil tidur

katakan tidak padahal korupsi
katakan kyai padahal sales mantra dan jampi
katakan amanat padahal khianat
katakan terhormat padahal terlaknat

katakan apa saja bagaimana saja
sebab tak ada hukum dunia yang mengikat
katakata katanya dengan nyatanyata nyatanya
: pasta gigi tak harus lekat dengan rambut sikat

katakan tidak padahal korupsi
katakan indah padahal njijiki
katakan berjasa padahal dasamuka
katakan surga padahal neraka

katakan apa saja bagaimana saja
sebab daripada lauhul mahfudz, lauhul mahwuw lebih mudah dibaca
sebab tempe goreng gosong aduhai gurihnya
sebab tak tampak di mata: Raqib-Atid bergelantungan di daun telinga

Pojokwatu, 24 April 2013 - 18.57

0 comments:

Ogah

Aku sering ogah
Pergi bekerja berlelah-lelah
Karena berapa buah rumah
Dan berapa meter persegi tanah
Juga berapa jumlah anak buah
Dijadikan ukuran tak boleh dibantah
Dalam menentukan siapa berdaya siapa lemah

Aku sering ogah
Pergi ke masjid beribadah
Karena sarung-kopyah
Dan sajadah
Juga kefasihan lidah
Dijadikan ukuran mentah
Dalam menentukan siapa salih siapa salah

Pojokwatu, 23 April 2013 – 05.03

0 comments:

Seperti Sebatang Emas yang Selalu Ingin Disepuh dengan Api


Seperti Adam-Mu, Tuhanku
Anugerahi pengembaraan panjang yang ketemu
Seperti Habil-Mu, Tuhanku
Anugerahi mengalah demi menyambut burung gagak-Mu
Seperti Idris-Mu, Tuhanku
Anugerahi kreativitas dan ilmu
Seperti Nuh-Mu, Tuhanku
Anugerahi perahu
Seperti Ibrahim-Mu, Tuhanku
Anugerahi menolak Jibril demi menyambut api sejuk-Mu
Seperti Ismail-Mu, Tuhanku
Anugerahi kambing pengganti leherku
Seperti Ya’qub-Mu, Tuhanku
Anugerahi pakaian penyembuh buta batinku
Seperti Yusuf-Mu, Tuhanku
Anugerahi sumur dan penjara
Sehingga mengelola negara tidak berdasar nafsu
Seperti Ayyub-Mu, Tuhanku
Anugerahi sakit seperti tak tersembuhkan dan pengkhianatan
Sehingga bisa bersabar dan memaafkan
Seperti Musa-Mu, Tuhanku
Anugerahi pingsan di hadapan-Mu
Seperti Harun-Mu, Tuhanku
Anugerahi kemerdekaan dalam kesetiaan
Seperti Daud-Mu, Tuhanku
Anugerahi seruling penjinak besiku
Seperti Sulaiman-Mu, Tuhanku
Anugerahi hud-hud-Mu
Seperti Yunus-Mu, Tuhanku
Anugerahi ikan penelan putus asaku
Seperti Yahya-Mu, Tuhanku
Anugerahi benteng pelindung dari godaan
Seperti Isa-Mu, Tuhanku
Anugerahi cinta kasih dan kebersahajaan
Seperti Muhammad-Mu, Tuhanku
Anugerahi jaga dalam tidurku
Seperti diriku, Tuhanku
Anugerahi bangunan kehendak-Mu
Di atas sepetak tanah yang tadi kusebut sebagai diriku

Pojokwatru,23 April 2013 – 05.36

0 comments:

Lubang-lubang Sepanjang Jalan


Sungguh tak akan berubah kerusakan suatu kaum
Sampai masing-masing anggota kaum itu
Bersungguh-sungguh mengubah kejiwaannya
(Alquran)

Perjalanan baru saja melewati batas. Lega. Tapi belum sepenuhnya lega. Di depan sana masih ada beberapa lubang yang wajib dihindari setelah baru saja selesai menghindari berpuluh-puluh lubang. Ironis yang kronis: di sini lubang di sana lubang. Selain di sepanjang jalan, di sisi sebelah kiri agak menjorok ke dalam, juga ada lubang. Di sini lubang di sana lubang, keduanya sama-sama mencelakakan.

Hanya pemimpin berjiwa celaka saja yang bisa membiarkan jalan separah ini, cetus sang kawan. Cetusan yang cukup beralasan: lubang-lubang sepanjang jalan ini sudah sedemikian mencelakakakn dan menelan banyak korban, mulai dari yang cedera ringan sampai dengan yang diiringkan menuju kuburan. Sedangkan Umar ibn Abd Aziz sampai menangis, padahal yang terpeleset hanya seekor kuda.

Tapi bukan hanya pemimpinnya saja yang berjiwa celaka. Yang dipimpin pun mayoritas berjiwa celaka. Sementara pihak yang dipercaya untuk mewakili yang dipimpin lebih celaka lagi: mencelakakan pemimpin sekaligus mencelakakan yang dipimpin.

Kok bisa yang dipimpin kausebut juga berjiwa celaka? Tanya sang kawan.

Kalau jiwa mereka bukan jiwa celaka, mereka tidak akan memilih orang berjiwa celaka untuk memimpin mereka lima tahun lamanya. Kalau jiwa mereka bukan jiwa celaka, mereka tidak akan memilih orang-orang celaka untuk mewakili mereka. Bagaimana tidak celaka, lha wong mereka begitu gampangnya dibuai dengan fatamorgana. Bukankah uang adalah salah satu anggota dari himpunan fatamorgana?

Ah, itu kan cari enakmu sendiri, mentang-mentang kamu tidak pernah satu kali pun masuk bilik suara, bantah sang kawan.

Ya,bolehlah kausebut dengan cari enakku sendiri. Tapi, bukankah pemimpin adalah cerminan masyarakat yang dipimpinnya? Kalau pemimpinnya seorang pencuri, kemungkinan terpasti adalah bahwa mayoritas masyarakat yang dipimpinnya adalah pencuri. Itulah sebabnya mengapa dulu Muhammad bilang “beruntunglah orang-orang yang asing”. Bahkan salah satu doa Muhammad berbunyi “masukkan aku ke dalam kelompok yang sedikit”.

Maka kalau sepanjang jalan ini, atau kalau jalan sepanjang ini, berlubang-lubang, berarti pemimpin beserta mayoritas masyarakatnya adalah pecinta lubang? Sergah sang kawan.

Itu istilahmu. Aku tak berhak mengiyakan atau pun mentidakkan. Terhadap fenomena lubang sepanjang jalan ini aku lebih condong untuk berasumsi bahwa pemimpin beserta mayoritas masyarakatnnya adalah penggemar permainan dakon. Jadi daripada ratusan guru terpaksa mengorbankan ribuan anak didiknya untuk mengikuti latihan senam demi memecahkan rekor MURI, lebih baik acara senam itu diganti dengan pertandingan dakon sepanjang jalan, sehingga para guru tidak perlu meninggalkan anak didiknya, sebab di depan sekolah mereka masing-masing tersedia cukup banyak stok lubang.

Pojokwatu,21 April 2013 – 01.17

0 comments:

Salah-salahmu Sendiri


Salah sendiri
Mengapa kaupilih alif
Sedangkan sedari kecil engkau mengerti
Di antara hak dan yak: satu huruf sembunyi dalam bunyi

Salah sendiri mengapa kaupilih tegak-lurus ini
Sedangkan sedari kemarin engkau mengerti
Tegak dan lurus tak akan pernah ada dan tak akan pernah kaumengerti
Jika bengkok belum kaualami dan berliku belum kaujalani

Salah sendiri
Mengapa kaupilih perjuangan
Ketika banyak orang memilih rongsokan
Dan sampah di pembuangan

Pojokwatu, 16 April 2013 – 20.23

0 comments:

Hal (Tidak) Menjadi Orang Serakah


Dalam sebuah kunjungan yang disempat-sempatkan, seorang teman yang sebenarnya sama sekali tidak ditugaskan untuk mengantarkan surat ke wilayah kerja saya, pada salah satu bab perbincangan kami tiba-tiba berseloroh, “Setelah saya amat-amati, rasa-rasanya hidupmu kok selalu dihadapkan dengan orang-orang serakah.”

Mendengar selorohan itu, tak segores pun ekspresi wajah saya berubah. Kesimpulan itu sudah saya sadari sedari dulu, hanya saja tak pernah saya publikasikan, lisan maupun tulisan. Entahlah, saya selalu merasakan keasyikan tersendiri dalam menyimpan rapat-rapat dan mengubur dalam-dalam kepedihan-kepedihan.  Rasanya seperti mendapat ganjaran atau pahala ibadah.

Kepedihan yang saya simpan ini bukan sebab kerasnya benturan antara keikhlasan dengan keserakahan. Jika kepedihan macam ini yang saya simpan, sejak jaman Pithecantropus (yang Erectus maupun yang tidak Erectus) benih kehidupan yang saat ini tumbuh menjadi “saya”ini sudah mati. Simpanan kepedihan ini juga bukan sebab tumbukan antara ketidakberdayaan dengan gumpalan kekuatan, karena rumusnya jelas. Dan pasti: buta mata menganugerahi penglihatan; “kelemahan” menyimpan berlimpah kekuatan.

Kepedihan ini saya simpan, sebab hanya melalui simpanan kepedihan inilah saya bisa berdialog dengan Nuh ketika duduk jongkok termenung menyaksikan dari kejauhan bakal kapalnya diberaki tetangga kanan-kirinya; berdialog dengan bayi-Musa ketika terapung di aliran sungai Nil menghindari malapetaka mimpi Kepala Negaranya; berdialog dengan Yusuf ketika berdiri memandang birunya langit dari dalam dan hitamnya dasar sumur; berdialog dengan Yunus ketika bersujud di sela-sela tulang rangka seekor ikan; berdialog dengan Yahya ketika terjepit di antara keindahan Tuhan dan kecantikan perempuan; berdialog dengan Zakaria ketika—bahkan—setan tetap memburu dan membunuhnya meski batang pohon adalah tempat pelarian dan persembunyian yang paling mustahil; berdialog dengan Muhammad ketika kejujuran dan keluguannya justru dibalas dengan kotoran unta, kerikil-batu, hingga anak panah dan mata pedang—juga ketika kesederhanaan dan kebersahajaan (yang berarti adalah ketidakserakahan) Muhammad justru dibalas dengan dusta, fitnah, serta pembunuhan karakter dan sikap hidup.

Untung saja teman saya membuat gerakan mengambil rokok di depan saya. Tanpa gerakan itu, ketermenungan saya tadi akan terus berlanjut sampai dengan Abu Dzar al-Ghiffary, Imam Hambali, Jalaluddin Rumi, Oemar Said Cokroaminoto, Umbu Landu Paranggi, Emha Ainun Nadjib ...

Teman saya tampaknya lelah menunggu tanggapan saya terhadap selorohannnya tentang hidup saya sehingga kelelahan itu perlu ia tipu dengan menyaksikan tarian asap rokok.

“Ada tiga kemungkinan terhadap apa yang tampak di matamu tentang salah satu bab hidupku. Pertama, aku dihadapkan dengan orang-orang serakah karena sampai dengan saat ini aku insya Allah tidak termasuk sebagai orang serakah, rumusnya jelas: Pandawa vs Kurawa. Kedua, aku dihadapkan dengan orang-orang serakah karena saya mungkin termasuk orang serakah, rumusnya juga cukup jelas: sekian belas partai berhadap-hadapan untuk bertikai, padahal sama-sama Golkar. Ketiga, aku dihadapkan dengan orang-orang serakah agar aku istiqamah untuk tidak menjadi orang serakah, sehingga terus-menerus disuguhi tontonan menjijikkan berjudul Alangkah Lucu dan Menggemaskannya Orang Serakah Itu.

Untung saja teman saya ini termasuk jenis orang yang mau berpikir agak panjang dan lama (panjang dan lama dalam arti yang sesungguhnya, sebab nyatanya ada panjang dan lama yang tidak sungguh-sungguh). Karena kalau tidak, tiga kemungkinan tersebut tidak akan pernah saya publikasikan—lisan maupun tulisan.

Pojokwatu, 16 April 2013 – 21.50

0 comments:

Nama dan Wajah


Jangankan wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Tentang namamu, orang itu bisa saja memberitahuku. Tapi ia tidak memberitahu. Tentang namamu, aku bisa saja bertanya pada orang itu. Tapi aku tidak bertanya. Aku dan orang itu seperti terlibat dalam kesepakatan rahasia. Suatu kesepakatan yang entah, tentang sebuah rahasia yang tak mudah.

Jangankan wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Seperti bayi yang tak minta dilahirkan, seperti manusia yang tak minta dihidupkan, demikianlah perjalanan ini dimulai: didasari oleh sesuatu yang absurd; sesuatu yang emboh. Tapi tidak berarti tak berdasar.

Jangankan wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Melewati gerbang kota pertama, hujan turun sejak pukul tiga tadi. Lima menit lebihnya dari jam tiga, aku berhenti, berteduh di sebuah warung yang tak ada penjualnya juga tak ada pembeli. Warung sunyi. Setelah melepas jaket seperempat basah, di atas bangku bambu, sendiri, aku membaringkan tubuh ini—menulis cerita ini: dalam hati.

Jangankan wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Tapi ketidaktahuan ini bagiku tidak menjadi penghalang untuk meneruskan perjalananku, setelah hampir satu jam lamanya menunggu hujan reda yang ternyata tak reda-reda. Ada jas hujan di dalam tas, sengaja tidak kupakai. Perjalanan berlanjut di bawah tetes-tetes gerimis. Tapi satu tetes kali lima kilometer adalah basah. Sementara itu, waktu membisikkan sesuatu: saatnya menyapa Tuhanmu. Aku berhenti di sebuah musholla pribadi. Benar-benar pribadi, karena untuk berwudhu pun aku masih harus meminta izin dan menunggu pemilik musholla menyalakan pompa airnya.

Jangankan wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Oleh karena itu, aku tutup sapaanku sore ini dengan kalimat ini: cahaya langitnya bumi, cahaya buminya langit, cahaya timurnya barat, cahaya baratnya timur, cahaya tidak timur tidak barat yang mencahayai timur dan barat, cahaya segala cahaya, cahaya segenap cahaya, cahaya di dalam cahaya, cahaya di luar cahaya, cahayanya cahaya, cahayanya nama siapa saja dan cahaya wajah siapa saja yang membutuhkan cahaya: cahaya yang tersimpan dalam tabung kaca—dalam alam peristiwa-peristiwa.

Jangankan wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Tapi aku tahu, engkau pun juga tak tahu namaku apalagi wajahku. Engkau juga pasti tak tahu betapa seluruh pakaian yang kupakai, dari yang luar sampai yang dalam, sudah basah total. Sedangkan perjalanan masih tersisa 3 jam lagi. Dan hujan tampak awet muda dan adil. Tentu saja aku sendiri yang tolol, sebab sampai sebasah ini belum juga tahu fungsi dan manfaat jas hujan.

Jangankan wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Maka demi nama dan wajahmu, juga demi kesehatanku sampai dengan besok malam di hadapan wajahmu, mau tak mau jas hujan aku kenakan. Bukan hujan yang aku takuti, tapi rasa dingin yang menusuk tulang. Tubuhku hampir tak berlemak, sedangkan engkau pun tahu, lemak adalah jaket alami yang melindungi tulang dari serangan rasa dingin yang bertubi-tubi.

Jangankan wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Engkau lebih misterius dari Tuhan yang meskipun wajahnya tidak diketahui tapi berkenan nama-Nya diketahui. Bahkan tak tanggung-tanggung, bukan satu nama saja yang Ia beritahukan, lebih dari itu: sembilan puluh sembilan. Sementara satu nama lagi tetap disembunyikan, agar manusia tak berhenti melakukan perjalanan. Ya, kita dihidupkan tidak untuk kehidupan itu sendiri, melainkan untuk melakukan perjalanan demi mengenal satu nama yang Ia sembunyikan itu. Pada suatu waktu, kehidupan adalah petak umpet. Seperti namamu dan wajahmu yang bertahun-tahun lamanya Ia sembunyikan dari jangkauan pengetahuanku.

Jangankan wajahmu, sedangkan namamu pun aku tak tahu. Tapi ketidaktahuan, asalkan seseorang mau melakukan perjalanan, atau “perjalanan”, selalu akan berakhir dengan pengetahuan. Yang kemudian, cepat atau lambat, dari pengetahuan itu lahir kembali ketidaktahuan-ketidaktahuan yang lain. Dari sudut ini, akhirnya kutahu wajahmu. Juga namamu. Tapi pengetahuan ini sunyi dari suaramu. Adapun wajahmu, wahai, bukankah itu adalah wajahku?

BP kkb Sambong, 8 April 2013 – 13.15

0 comments:

Hidup/Bekerja: Antara yang Sungguh-sungguh dengan yang Main-main


Satu jenis praduga bersalah yang sering menimpa saya adalah bahwa saya dikira termasuk jenis manusia patuh yang iya-iya saja jika disuruh-suruh. Saking bersalahnya praduga itu, sampai ada yang kemudian meningkatkan intensitas dugaan itu dari sekadar mudah disuruh ke mudah diakali dan mudah ditipu. Episode terkini kehidupan saya membuktikan kenyataan itu. Dan hanya sekitar empat sampai lima orang teman saja yang benar-benar tahu bahwa episode terkini itu tidak murni akal-akalan dan tipuan melainkan juga diperkuat oleh dukungan koalisi partai jin-setan, yang tentu saja setelah koalisi itu mendapatkan izin dari Tuhan. Maka siapakah yang bisa mengelak dari kehendak Tuhan?

Belum lepas dari tipuan pertama, datanglah akal-akalan berikutnya. Seseorang yang berdasarkan apa kata SK adalah atasan saya, dengan seenak mulutnya menyatakan kepada pihak-pihak yang berkaitan dengan bidang kerja saya bahwa “segala uang”, saya lah yang memegang, sehingga jika pihak-pihak yang berkaitan itu belum menerima uang hak mereka, saya lah yang ngunthal. Padahal, jangankan uang hak mereka, uang hak saya pun dia telan tanpa sisa, plus meninggalkan tanggungan sekian Rupiah kepada 11 orang kader desa. Tanggungan yang siapa lagi kalau bukan saya yang berkewajiban “membereskannya” dengan sebuah pidato sok bijak, “Mari kita kasihani dia dengan mengikhlaskan uang hak panjenengan itu. Dan panjatkan doa kebaikan untuk anak-cucunya: semoga anak-cucunya tidak ikut menanggung akibat dari apa yang dia buat.”

Tapi sepedih apa pun fitnah itu, ada satu kesimpulan yang saya syukuri: ada orang yang hidup berdasar rasa malu, ada orang yang hidup memperturutkan apa kata kemaluan. Jika ada waktu luang, datanglah ke tempat saya, dan akan Anda lihat orang itu melintas di depan rumah kontrakan saya (lengkap dengan helm gelapnya) menuju ke atau pergi dari rumah kontrakan wanita simpanannya. SK pensiun dan organ-organ tubuh yang mengerut dan menua tampaknya belum cukup menjadi tanda baginya.

Baru saja lepas dari satu tipuan dan satu akal-akalan, datanglah “kereta” berikutnya. “Kereta” yang memuat dugaan sebagaimana tersebut di paragaraf pertama: bahwa saya jenis manusia patuh yang iya-iya saja jika disuruh-suruh. Terhadap “kereta” terbaru ini, keluhan saya kepada seorang teman biasanya begini bunyinya, “Kalau dia ditempatkan di sini hanya untuk membebankan seluruh pekerjaan kepada satu orang, sedangkan jelas-jelas seluruh pekerjaan itu harus dikerjakan bersama-sama atau setidaknya dibagi dua, maka apa bedanya dia dengan benalu? Kalau hanya untuk datang pukul delapan dan pulang pukul tiga, negara ini tidak perlu mengeluarkan biaya besar untuk menggaji orang dengan spesifikasi tertentu, karena orang gila pun bisa mengerjakan pekerjaan datang-pulang itu.”

Sebenarnya adanya dugaan itu juga tak lepas dari “saham” yang saya tanam sendiri. Prinsip bahwa kehidupan saya ini maupun pekerjaan saya ini bukan amanah dari si A maupun si B, dari si Bupati maupun si Kepala Dinas, melainkan amanah langsung dari Tuhan, membentuk saya menjadi seorang yang “multi-karya”, siap mengerjakan apa saja. Sedangkan ketika seseorang tampak siap mengerjakan apa saja, khususnya pada zaman tak jelas ini, konsekuensinya adalah bahwa seseorang itu harus siap tidak mengeluh jika disuruh-suruh. Atau setidaknya dimintai tolong.

Bentuk itulah yang tampaknya keliru mereka baca.

Sehingga hilanglah dari mata pandang mereka seorang “saya” yang di masa kuliah dulu hampir di-DO karena memperjuangkan hak 24 mahasiswa miskin yang paket beasiswa empat tahunnya hilang 50 persen, dijadikan bancakan segelintir dosen dan sebagian dijadikan uang tutup mulut segelintir mahasiswa berbendera sebuah organisasi yang iri dan dengki terhadap “nasib baik” kami.

Sehingga hilanglah dari mata pandang mereka seorang “saya” yang tersenyum namun memandang tajam segelintir polisi yang menciduk saya di pinggir jalan dan berjamaah memukuli saya tanpa melewati prosedur interogasi, di kandang mereka—berita terkini yang saya baca, “pimpinan” gerombolan polisi itu baru saja mati akhir tahun kemarin.

Sehingga hilanglah dari mata pandang  mereka seorang “saya” yang bagai spider man merayap dinding lantai tiga sebuah gedung  dengan resiko jatuh dan lepas nyawa demi memperjuangkan hak—sekali lagi—24 mahasiswa miskin yang jangankan untuk ngrental komputer, untuk makan sehari-hari pun sampai ada yang nyambi jadi tukang sapu, tukang adzan, juga tukang baca doa kenduri.

Ya, hilanglah dari mata pandang mereka sebentuk ke-bonek-an yang siap meledak yang saat ini masih berupa setungku air panas menggelegak. Hilang dari mata pandang mereka seorang bayi yang lahir dalam sebuah rumah yang terletak di jalan Wisanggeni sehingga tak bisa menghindar dari tertular watak Wisanggeni, yaitu selembar wayang yang bahkan Batara Guru pun diburu untuk dilabrak, demi mendapatkan “nur”, “cahaya”, kejelasan.

Akankah praduga bersalah dan mata pandang yang hilang itu terus berlangsung hingga kemudian hari? Semoga tidak. Perasaan terhina dan keadaan tertipu-terpedaya semestinya bisa membuat seseorang tiba-tiba menjadi orang baru yang sangat berbeda dengan dirinya sebelumnya.

Perasaan terhina dan keadaan tertipu-terpedaya sesungguhnya adalah anugerah kekuatan yang tiada taranya. Tinggal bagaimana si terhina, si tertipu, atau si terpedaya mengelola dan mendayagunakan kekuatan itu.

Wa nuriidu an namuuna-l-ladziina-s-tudh’ifuu fi-l-ardhi wa ja’alnahumu-l-waaritsiin ...

Pojokwatu, 27 Februari 2013 – 17:25

0 comments:

Template by Clairvo Yance
Copyright © 2013 KapaBilitaS and Blogger Themes.