Surga yang Sejati
Bukankah dulu engkau bingung,
tapi kemudian Aku cahayai? (93:7)
Bukankah dulu engkau yatim,
tapi kemudian Aku asuh-asah-asihi? (93:6)
...
Seperti seorang anak yang
tidak perlu bertanya kepada ibunya
apakah hari ini akan memasak
nasi atau tidak,
seperti itulah kepasrahan ini.
Tak akan pernah lepas dari
degup jantung ini,
ingatan terhadap
kejadian-kejadian
--yang sekilas tampak
mengagumkan maupun yang sekilas tampak memprihatinkan--
Yang di situ selalu guratan
senyum anehmu
: senyum seorang ibu
yang khawatir dengan
keselamatan anaknya
sekaligus senyum seorang ayah
yang bangga melihat anaknya
tidak menangis bahkan malah tertawa
ketika terjatuh dan terluka
juga senyum seorang saudara
yang turut berbahagia
melihat saudaranya berhasil
menemukan diri sejatinya
sendiri
dalam cekam bencana
maupun dalam tenteram jiwa
sehingga menjadi tahu
: dalam bencana ada rencana
dalam jiwa ada berita gembira.
...
Bukankah dulu berat bebanmu, tapi
kemudian aku ringankan? (94:3)
Bukankah dulu sesak jiwamu,
tapi kemudian aku lapangkan? (94:2)
Bukankah satu berasal dari
kosong dan dua berawal dari satu?
Bukankah tidak ada surga jika
tak ada neraka?
Bukankah kencana dan bencana
adalah dua hal yang datang dan perginya
selalu bersama:
yang pertama mengandung yang
kedua, dan juga sebaliknya?(94:5,6)
Wahai, kembalilah kepada
doamu: khairul bariyyah! (98:7)
...
Oh ya, sepertinya pendahulu-pendahulumu
itu kurang tepat dalam menerjemahkan:
bukan surga yang kekal, tapi
surga yang sejati. (98:8)
...
Pojokwatu, 25 Februari 2013
– 01:07

0 comments: