Stasiun Kun Fayakun
Ikuti saja peristiwaperistiwa
Yang dijejakkan roda
Kereta
Waktu
Itu katamu
Sebagai saudara kepada saudara
Atau sebagai guru kepada muridnya
Atau sebagai bukan siapasiapa
Kepada bukan siapasiapa
Itu dulu
Ketika peristiwaperistiwa
Masih duduk di cakrawala
Menunggu kereta waktu tiba
Di stasiun kun fayakun-Nya
Aku yang tak berilmu
Membaca pesanmu sebagai cerita lucu
Persis seperti Musa yang menyembunyikan tawa
Ketika Khidir-Nya memesan tiga biji kesabaran
kepadanya
“Adakah manusia yang bisa lebih bersabar dariku
Dalam menghadapi manusia-manusia Israil yang
berhati batu?”
Tapi tentu saja aku bukan Musa
Dan engkau pun bukan Khidir-Nya
Kemiripan-kemiripan adalah hal biasa
Yang bisa ditemukan dalam beragam cerita
Dari berbagai belahan dan penjuru dunia
Sedangkan mirip tak sama dengan sama
Kemudian terjadilah
Apa yang telah terjadi
Khidir memenggal kepala
Musa mendidih darahnya
Salah apakah itu bocah
Sehingga badan dan kepalanya terpisah?
Matilah biji pertama kesabaran Musa
Khidir dengan wajah sunyinya menyampaikan berita
Aku menyelamatkan kedua orang tuanya
Sementara di ruang dan waktu yang lain
Dengan darah yang mendidih seperti Musa
Aku bertanya
Salah apakah ini bocah?
Sehingga dengan jantung hatinya mesti berpisah?
Engkau dengan senyum sumringah menyampaikan berita
Engkau diselamatkan oleh-Nya
Seperti bayi yang merangkak menuju api
Tetapi segera disambar dan digendong oleh ibunya
Sehingga tak jadi terbakar dan mati
Dalam gendongan bayi itu menangis
Karena kaget atau karena tak tercapai apa yang ia
tuju
Dalam gendongan bayi itu menangis
Karena bayi belum tahu di mana selamat beralamat
Kemudian terjadilah
Apa yang telah terjadi
Khidir merusak perahu orang tak punya
Darah Musa naik ke ubun-ubun kepalanya
Salah apakah itu orang
Sehingga kaurusak kepunyaannya yang paling
berharga?
Matilah biji kedua kesabaran Musa
Khidir dengan mata hampanya menyampaikan berita
Aku menyelamatkannya dari keserakahan penguasa
Sementara di ruang dan waktu yang lain
Dengan darah yang naik ke ubun-ubun kepala seperti
Musa
Aku bertanya
Salah apakah ini orang?
Sehingga ditumpangkan perahu rusak lantas tenggelam?
Engkau dengan senyum sumringah menyampaikan berita
Engkau diselamatkan oleh-Nya
Engkau seperti Yusuf kanak-kanak
Yang oleh kakak-kakaknya dijebak
Juga seperti Yusuf remaja
Yang oleh seorang wanita dijebak
Yusuf kanak-kanak selamat oleh pedagang budak
Sementara pedagang budak tak merasa
menyelamatkannya
Yusuf remaja selamat oleh rekan sesama penghuni
penjara
Sementara rekan sesama penghuni penjara tak merasa
menyelamatkannya
Yusuf kanak-kanak tak menangis
Yusuf remaja tak menangis
Karena matahari-bulan-bintang berbaris di
cakrawala
Menunggu Yusuf tiba
Di stasiun kun fa yakun-Nya
Kemudian terjadilah
Apa yang telah terjadi
Khidir bekerja tanpa diperintah dan tanpa diupah
Musa geleng-geleng kepala
Penyakit gila macam apakah yang diidap ini orang
Kok mau-maunya membuat diri sendiri susah?
Matilah biji terakhir kesabaran Musa
Khidir dengan ibu jarinya yang sejuk menyampaikan
berita
Aku menyelamatkan masa depan kehidupan
Sementara di ruang dan waktu yang lain
Sambil geleng-geleng kepala seperti Musa
Aku bertanya
Pekerjaan gila macam apakah yang sedang aku jalani
ini
Kok rasa-rasanya teramat kacau korelasi dan
koefisiennya?
Engkau dengan senyum sumringah menyampaikan berita
Engkau menyelamatkan masa depan kehidupan
Orang-orang yang hampir selalu dicelakakan
Oleh orang-orang yang seharusnya bertugas menyelematkan
mereka
Tapi engkau tak merasa menyelamatkan siapapun
Dan itu perasaan yang benar
Karena anta salam-minka salam-ilaika salam
Dan sangat bisa jadi mereka juga tak merasa engkau
selamatkan
Karena samudera terbelah pun belum cukup gagah
Untuk membuat hati batu Israil pecah
Baiklah, baiklah
Mari kita sederhanakan ini masalah
Yang telah terjadi itu biarlah
Jadi apa yang dilakukan Musa
Setelah berpisah dari Khidir-Nya?
Setelah berhenti mengikuti
perisitiwaperistiwa?
Musa berhenti bertanya
Tapi tak berhenti
berjalan
Pojokwatu, 23 Maret 2013 – 02.26

0 comments: