Yang Dibayar Adalah Anunya


Diperlukan penelitian lebih lanjut dengan energi penelitian yang tidak sekualitas energi manusia usia lanjut untuk menentukan apakah fenomena ini hanya terjadi sini atau juga terjadi di sana: yang dibayar (baca: digaji) adalah masuk kerjanya. Atau lebih tepatnya: masuk kantornya. Juga masuk sekolahnya.

Karena masuk kantor belum tentu bekerja, dan masuk sekolah belum tentu mengajar dengan benar.

Bagi yang pernah melihat kebiasaan saya, tulisan ini akan dibaca sebagai sebuah pembelaan diri. Sebuah pembacaan yang bagi saya membingungkan, karena nyatanya saya tak punya diri. Jadi diri siapa yang yang sebelah mana yang perlu saya bela dengan tulisan yang merepotkan ini?

Istilah “yang dibayar adalah masuknya” sudah cukup lama saya dengar, dari seorang guru yang menceritakan prinsip kawan gurunya kepada saya. Prinsip yang bagus bagi banyak aparat negara, tetapi tidak bagus bagi sedikit orang yang tidak setetes pun darah aparat mengalir dalam tubuhnya. Dan saya termasuk dalam yang sedikit itu.

Nilai “tidak bagus” di sini jauh dari subyektivisme, karena di sini saya berhadapan langsung (benar-benar langsung sebab mejanya berada di depan meja saya) dengan orang yang tidak pernah mengucapkan prinsip itu tapi mengerjakannya dengan sepenuh hati. Dan seperti nasib kebanyakan rekan-rekan seangkatan yang datang dari luar daerah yang masing-masingnya menjadi “tulang punggung” di masing-masing tempat kerjanya, seperti itulah nasib saya.

Tentu saja menjadi tulang punggung bukan cita-cita kami. Apalagi cita-cita saya. Kalau dipaksa memilih di antara sekian banyak tulang itu, saya akan memilih menjadi tulang rusuk. Tetapi tidak ada pilihan lain. Atau mungkin karena kami tidak boleh memilih.

Beberapa orang kawan guru mengeluh soal kepala sekolahnya yang gak godhag mergawe, juga mengeluhkan rekan-rekan sesama guru yang gak godhag mulang. Tentang ini ia berkesimpulan, “Pantas saja anak-anak kota ini gebleg-gebleg, lha wong guru-gurunya juga gebleg-gebleg.”

Tentu saja kesimpulan itu tidak mutlak benarnya. Banyak faktor, selain guru, yang membuat anak menjadi gebleg. Kalau saya sendiri memilih kesimpulan yang lain: tingkat kegeblegan seorang anak didik, dengan melihat kata “anak” dan “didik” secara terpisah, ditentukan oleh seberapa intens orang tua dan guru si anak didik itu mendoakannya.

Memangnya yang punya ilmu itu guru? Orang tua hanya mencetak dan melahirkan. Guru hanya menyampaikan informasi dari buku. Sedangkan setiap anak yang lahir, sudah membawa jatah rejekinya masing-masing. Sementara itu, informasi dan buku belum tentu ilmu.

Tetapi jangankan berdoa, sedangkan gusti Allah pun terasa asing. Tak sekali dua kali saya menemukan gelagat keterasingan ini dari reaksi banyak orang yang saya temui ketika saya sedang berkunjung ke desa-desa; door-to door.

Di warung lain, seorang kawan bukan guru dengan kesombongannya yang rendah hati berkata, “Saya tidak tahu bagaimana daerah ini bisa terus berjalan, sementara pejabat sekelas Kasie saja sama sekali tak bisa mengerjakan apa-apa yang semestinya ia kerjakan, sehingga segala sesuatunya saya borong sendirian.”

“Itu bukan karena ia tak bisa, tapi karena ia ingin menunjukkan kepadamu bahwa ia atasan dan kamu bawahan,” jawab saya menenangkan emosi kedaerahannya.

“Iso opo, yo gebleg kuwi. Nek ra gebleg yo lumuh. Padahal gebleg karo lumuh iku podo,” sangkal kawan saya.

Saya diam. Bukan karena ia mungkin benar, tapi karena saya waktu itu belum mengalami apa yang ia alami.

Dan saat ini saya mengalaminya. Meskipun hati ini sudah saya tata sedemikian rupa, toh sedih juga melihat orang yang berlagak sebagai atasan padahal sebenarnya bukan atasan, berlagak tahu tapi sebenarnya tak tahu, berlagak mengarahkan tapi malah menyesatkan, berlagak berani tapi sebenarnya pengecut, dan duduk santai menghisap rokok-menyeruput kopi sambil memain-mainkan HP sementara di depannya rekan kerjanya sibuk menghitung woman-to-woman jumlah Wanita Usia Subur se-Kecamatan.

Kesibukan dan kesedihan yang lain-lain sengaja tidak saya ceritakan demi menghindari nasib Togog yang bilang cahaya tapi orang lain mendengarnya lampu. Lagi pula kesedihan saya ini juga belum tentu akurat. Karena ternyata ia masih bisa bekerja, yaitu ketika ada informasi pencairan dana. Dalam hal ini, harus saya akui speed dan skill-nya dalam bekerja. Prinsip “tangan kiri jangan sampai tahu apa yang diterima tangan kanan” tak lupa ia terapkan. Kemudian kalau pada suatu hari tangan kiri bertanya tentang dana itu, tangan kanan cukup menjawabnya dengan, “Anu, kemarin .....”

“Yang Dibayar adalah Masuknya” tampaknya perlu diganti dengan “Yang Dibayar adalah Anunya”.

BP kkb Sambong, 26 Maret 2013 – 12.43

0 comments:

Tutup Pengetahuan

Ketika dengan rendah hati kau akui ketidaktahuanmu atau bahkan yang lebih dari itu, kebodohanmu, seketika itu juga dibukakan untukmu pengetahuan dari tutupnya. Tutup pengetahuan itu bernama kesombongan. Kesombongan terdiri dari banyak lapisan. Lapisan pertama bernama menghina sesama, lapis terakhir bernama menolak al-haqq (benarnya kenyataan; nyatanya kebenaran). --11172012

0 comments:

Stasiun Kun Fayakun


Jangan bertanya
Ikuti saja peristiwaperistiwa
Yang dijejakkan roda
Kereta
Waktu

Itu katamu
Sebagai saudara kepada saudara
Atau sebagai guru kepada muridnya
Atau sebagai bukan siapasiapa
Kepada bukan siapasiapa

Itu dulu
Ketika peristiwaperistiwa
Masih duduk di cakrawala
Menunggu kereta waktu tiba
Di stasiun kun fayakun-Nya

Aku yang tak berilmu
Membaca pesanmu sebagai cerita lucu
Persis seperti Musa yang menyembunyikan tawa
Ketika Khidir-Nya memesan tiga biji kesabaran kepadanya
“Adakah manusia yang bisa lebih bersabar dariku
Dalam menghadapi manusia-manusia Israil yang berhati batu?”

Tapi tentu saja aku bukan Musa
Dan engkau pun bukan Khidir-Nya
Kemiripan-kemiripan adalah hal biasa
Yang bisa ditemukan dalam beragam cerita
Dari berbagai belahan dan penjuru dunia
Sedangkan mirip tak sama dengan sama

Kemudian terjadilah
Apa yang telah terjadi
Khidir memenggal kepala
Musa mendidih darahnya
Salah apakah itu bocah
Sehingga badan dan kepalanya terpisah?
Matilah biji pertama kesabaran Musa
Khidir dengan wajah sunyinya menyampaikan berita
Aku menyelamatkan kedua orang tuanya

Sementara di ruang dan waktu yang lain
Dengan darah yang mendidih seperti Musa
Aku bertanya
Salah apakah ini bocah?
Sehingga dengan jantung hatinya mesti berpisah?
Engkau dengan senyum sumringah menyampaikan berita
Engkau diselamatkan oleh-Nya
Seperti bayi yang merangkak menuju api
Tetapi segera disambar dan digendong oleh ibunya
Sehingga tak jadi terbakar dan mati

Dalam gendongan bayi itu menangis
Karena kaget atau karena tak tercapai apa yang ia tuju
Dalam gendongan bayi itu menangis
Karena bayi belum tahu di mana selamat beralamat

Kemudian terjadilah
Apa yang telah terjadi
Khidir merusak perahu orang tak punya
Darah Musa naik ke ubun-ubun kepalanya
Salah apakah itu orang
Sehingga kaurusak kepunyaannya yang paling berharga?
Matilah biji kedua kesabaran Musa
Khidir dengan mata hampanya menyampaikan berita
Aku menyelamatkannya dari keserakahan penguasa

Sementara di ruang dan waktu yang lain
Dengan darah yang naik ke ubun-ubun kepala seperti Musa
Aku bertanya
Salah apakah ini orang?
Sehingga ditumpangkan perahu rusak lantas tenggelam?
Engkau dengan senyum sumringah menyampaikan berita
Engkau diselamatkan oleh-Nya
Engkau seperti Yusuf kanak-kanak
Yang oleh kakak-kakaknya dijebak
Juga seperti Yusuf remaja
Yang oleh seorang wanita dijebak
Yusuf kanak-kanak selamat oleh pedagang budak
Sementara pedagang budak tak merasa menyelamatkannya
Yusuf remaja selamat oleh rekan sesama penghuni penjara
Sementara rekan sesama penghuni penjara tak merasa menyelamatkannya

Yusuf kanak-kanak tak menangis
Yusuf remaja tak menangis
Karena matahari-bulan-bintang berbaris di cakrawala
Menunggu Yusuf tiba
Di stasiun kun fa yakun-Nya

Kemudian terjadilah
Apa yang telah terjadi
Khidir bekerja tanpa diperintah dan tanpa diupah
Musa geleng-geleng kepala
Penyakit gila macam apakah yang diidap ini orang
Kok mau-maunya membuat diri sendiri susah?
Matilah biji terakhir kesabaran Musa
Khidir dengan ibu jarinya yang sejuk menyampaikan berita
Aku menyelamatkan masa depan kehidupan

Sementara di ruang dan waktu yang lain
Sambil geleng-geleng kepala seperti Musa
Aku bertanya
Pekerjaan gila macam apakah yang sedang aku jalani ini
Kok rasa-rasanya teramat kacau korelasi dan koefisiennya?
Engkau dengan senyum sumringah menyampaikan berita
Engkau menyelamatkan masa depan kehidupan
Orang-orang yang hampir selalu dicelakakan
Oleh orang-orang yang seharusnya bertugas menyelematkan mereka
Tapi engkau tak merasa menyelamatkan siapapun
Dan itu perasaan yang benar
Karena anta salam-minka salam-ilaika salam
Dan sangat bisa jadi mereka juga tak merasa engkau selamatkan
Karena samudera terbelah pun belum cukup gagah
Untuk membuat hati batu Israil pecah

Baiklah, baiklah
Mari kita sederhanakan ini masalah
Yang telah terjadi itu biarlah
Jadi apa yang dilakukan Musa
Setelah berpisah dari Khidir-Nya?
Setelah berhenti mengikuti perisitiwaperistiwa?

Musa berhenti bertanya
Tapi tak berhenti berjalan

Pojokwatu, 23 Maret 2013 – 02.26

0 comments:

Apa Kabar Kepatuhan


Kepada engkau
Yang membalas kepatuhan
Dengan ketidakpatutan
Aku katakan sikap-sikapku:
Jika melemparkan batu ke kepalamu
adalah sebuah keburukan
Maka tidak melemparkan batu
ke kepalamu
pastilah sebuah kebaikan
Sedangkan jiwaku senantiasa memilih tidak
Sehingga bergembiralah karena kepalamu tidak pecah
Sebagaimana ketidakpatutanmu pun membuatku bergembira
Karena tampak di cakrawala: aku sedang diasah
Oleh Ia yang berada di entah
Semoga jika telah datang waktunya mengiris, menyayat, dan membelah
Bukan hidupmu yang mengucurkan darah

Benci dan dendam sudah lama minggat dari dari ini rumah
Biarlah yang mengasah yang membereskan engkau punya masalah

Dan selamat tinggal kepatuhan
Kepada siapa saja yang hanya bisa berdiri
Dengan cara membuat orang lain jatuh

Pojokwatu, 04 Maret 2013 – 00.14

0 comments:

Surga yang Sejati


Bukankah dulu engkau miskin, tapi kemudian Aku cukupi? (93:8)
Bukankah dulu engkau bingung, tapi kemudian Aku cahayai? (93:7)
Bukankah dulu engkau yatim, tapi kemudian Aku asuh-asah-asihi? (93:6)
...

Seperti seorang anak yang tidak perlu bertanya kepada ibunya
apakah hari ini akan memasak nasi atau tidak,
seperti itulah kepasrahan ini.
Tak akan pernah lepas dari degup jantung ini,
ingatan terhadap kejadian-kejadian
--yang sekilas tampak mengagumkan maupun yang sekilas tampak memprihatinkan--
Yang di situ selalu guratan senyum anehmu
: senyum seorang ibu
yang khawatir dengan keselamatan anaknya
sekaligus senyum seorang ayah
yang bangga melihat anaknya tidak menangis bahkan malah tertawa
ketika terjatuh dan terluka
juga senyum seorang saudara
yang turut berbahagia
melihat saudaranya berhasil menemukan diri sejatinya
sendiri
dalam cekam bencana
maupun dalam tenteram jiwa
sehingga menjadi tahu
: dalam bencana ada rencana
dalam jiwa ada berita gembira.
...

Bukankah dulu berat bebanmu, tapi kemudian aku ringankan? (94:3)
Bukankah dulu sesak jiwamu, tapi kemudian aku lapangkan? (94:2)
Bukankah satu berasal dari kosong dan dua berawal dari satu?
Bukankah tidak ada surga jika tak ada neraka?
Bukankah kencana dan bencana adalah dua hal yang datang dan perginya
selalu bersama:
yang pertama mengandung yang kedua, dan juga sebaliknya?(94:5,6)
Wahai, kembalilah kepada doamu: khairul bariyyah! (98:7)
...

Oh ya, sepertinya pendahulu-pendahulumu itu kurang tepat dalam menerjemahkan:
bukan surga yang kekal, tapi surga yang sejati. (98:8)
...

Pojokwatu, 25 Februari 2013 – 01:07

0 comments:

Template by Clairvo Yance
Copyright © 2013 KapaBilitaS and Blogger Themes.